konglomerasi bisnis

Perusahaan konglomerasi merupakan kombinasi dari dua perusahaan atau lebih yang menjalin bisnis secara keseluruhan dalam satu kelompok perusahaan atau yang dikenal dengan group perusahaan. Perusahaan konglomerasi biasanya memiliki induk perusahaan (parents) yang membawahi beberapa anak perusahaan (subsidiaries). Sering kali sebuah perusahaan konglomerat memiliki multi industri bisnis yang mereka jalani.

Perusahaan konglomerat mulai populer pada tahun 1960an, dimana saat itu terjadi kondisi pasar kencendrungan (tren) melemah atau turun sehingga para pengusaha menjual saham mereka agar tidak mengalami kerugian atau dikenal dengan istilah bear market. Sebaliknya, istilah bull market merupakan kondisi dimana pasar dalam keadaan pasar naik atau menguat. Sehingga para pengusaha biasanya membeli saham-saham perusahaan lain.

Perusahaan yang sudah dibeli akan berubah menjadi anak perusahaan dan akan berada dibawah kelompok perusahaan induk tersebut. Setidaknya di Indonesia sendiri perusahaan konglomerasi sudah banyak sekali baik dari kelompuk usaha pemerintah dan swasta. CDMI sebagai perusahaan konsultan bisnis dan riset telah berhasil merangkum beberapa group perusahaan konglomerasi Indonesia.

Berikut hasil rangkuman CDMI mengenai perusahaan konglomerasi indonesia :

1. Kondisi ekonomi mengalami perlambatan selama tiga tahun terakhir dan masih melemahnya ekonomi dunia, tetapi sebagian besar bisnis ada yang terus meningkat dan mengurita sehingga beberapa konglomerasi sukses meningkatkan asset, pendapatan dan laba mereka.

2. Selain meningkatkan usaha mereka, perusahaan konglomerasi memberikan konstribusi bagi pendapatan negara terhadap pembayaran pajak pada tahun 2017 lalu hanya sebesar Rp 361,84 triliun dan pada tahun 2018 menjadi Rp 432,37 triliun.

3. Pendapatan Salim Group pada tahun 2017 meningkat fantastis. Ada tujuh anak usahanya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebegai pencetak uang. Konstribusi terbesar berasal dari INDF, ICBP, LISP, IMAS dan DNET. Sehingga kekayaan pribadi pemilik group Anthony Salim ditaksi bertambah Rp 16,62 triliun.

4. Sinarmas Group, Melalui empat anak usahanya dibisnis kertas dengan kinerja yang gemilang, bisnis properti, keuangan, perkebunan yang juga maju pesat dan berbagai ekspansi yang dilakukan membuat kekayaan pemilikinya kini ditaksir mencapai Rp 121,3 triliun.

5. Djarum Group, merupakan salah satu perusahaan konglomerasi terbesar di Indonesia dengan bisnis utama rokok yang telah dijalani selama 65 tahun, sekarang telah berkembang diberbagai bidang bisnis. Sumber pemasukan pun saat ini berasal dari salah satu bank besar swasta yaitu Bank Central Asia (BCA), bisnis properti, elektronik, textile & garment, infrastruktur, telekomunikasi, perkebunan, dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Pemilik Djarum Group saat ini masih kokoh bertengger diposisi pertama orang terkaya di Indonesia.

6. Pada industri makanan dan minuman banyak juga melahirkan konglomerasi baru, salah satunya Khong Guan yang pemiliknya masuk dalam deretan orang terkaya di Indonesia pada tahun 2017 lalu.

7. Kemudian ada group perusahaan lain seperti Barito Group, Astra Group, Lippo Group, Wings Group, Sosro Group, Bosowa Group, CT Group, Wilmar Group, Musim Mas Group, Sungai Budi Group, Kalbe Group, Mayora Group, ABC Group, Ceres Group, Gajah Tunggal Group dan group perusahaan lainnya yang terus melebarkan sayap usaha bisnis diberbagai bidang.

8. Selain group perusahaan swasta, konglomerasi juga muncul dari Badan Usahan Milik Negara (BUMN), yang sebagian besar berkinerja sangat baik. Pada tahun 2017 saja total pendapatan seluruh BUMN mencapai Rp 2.116 triliun atau meningkat pesat dari tahun sebelumnya sebesar Rp 1.702 triliun. Konstribusi pendapatan terbesar berasal dari industri energi, perbankan, telekomunikasi, infrastruktur, semen dan properti. Dari perbankan empat bank milik BUMN BRI, Mandiri, BNI, dan BTN mampu bersaing dan menjadi pemimpin.

Dari semua rangkuman diatas, rincian group perusahaan konglomerasi bisa dibaca secara lengkap dibuku studi 120 group perusahaan konglomerasi di Indonesia. Buku ini berisikan 120 profil group perusahaan, daftar anak perusahaan & afiliasinya, kinerja group perusahaan dan kinerja keuangannya.

Baca Juga : Industri Properti Indonesia Hanya Tumbuh 3,8 Persen