properti indonesia

Walaupun dalam lima tahun terakhir (2015-2019) industri properti Indonesia hanya tumbuh rata-rata 3,8 persen, dibawah pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5 persen, namun pelaku industri ini tetap optimis dan meyakini, industri properti akan kembali bangkit ditahun 2020 dan akan kembali booming ditahun 2021 dan 2022 mendatang. Indikasi peningkatan ini sudah terlihat diakhir tahun 2019 lalu dengan nilai kapitalisasi pasar Rp. 114 triliun.

Menurut hasil investigasi CDMI Consulting, terhadap 50 Top pengembang Indonesia, proyek-proyek yang diluncurkan nilai investasinya sungguh fantastis, bernilai triliunan hingga puluhan triliun rupiah, seperti yang dilakukan ASTRA Property, CT Corp, RAJAWALI PROPERTY Group, AKR Land, GAMA Land, TOKYU Land, SYNTHESIS Development, SPRINGHILL Group, PARAMOUNT Group, CENTURY Properties, PREMIER Qualitas, TRIVO Group dan VASANTA Group. Dua nama terakhir sedang membangun superblok dengan menggandeng investor asing, DAIWA House Industry dan Mitsubishi Corporation.

Kinerja perusahaan properti yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) terlihat terus meningkat, seperti SINARMAS Group, PAKUWON Group, SUMMARECON Group, INTILAND Group, JABABEKA Group, METROPOLITAN Group, MODERN Group, METLAND Group, JAYA Group, PERDANA Gapura Group, POLLUX Group dan masih banyak yang lain. Total asset perusahaan ini melambung tinggi dalam lima tahun terakhir.

Baca Juga : Pertumbuhan Bisnis Properti di Indonesia 

Kinerja perusahaan BUMN di sektor properti juga patut di apresiasi tinggi, karena terus berkinerja positif, seperti PP Properti, ADHI Persada Properti, HK Realty, WIKA Realty, WASKITA Realty dan PERUMNAS. Keenam perusahaan ini sukses meningkatkan total asset,pendapatan dan laba. Satu lagi perusahaan yang menjadi sorotan dan banyak membangun proyek berbasis Transit Oriented Development/TOD, yaitu PT. ADHI Commuter Properti.

Banyaknya proyek properti yang diluncurkan, tentu berdampak positif pada sektor konstruksi. Menurut pengamatan CDMI Consulting, perusahaan konstruksi yang paling banyak meraih kontrak dalam lima tahun terakhir ini adalah perusahaan kontruksi yang sudah go public, baik perusahaan BUMN, maupun perusahaan swasta, namun kehadiran perusahaan konstruksi asing dari Jepang, Korea Selatan dan China semakin menambah ketat persaingan.