Tingginya Persaingan Industri Konstruksi Asing Di Indonesia

Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo telah berkomitmen untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di seluruh Indonesia, untuk itu dana infrastruktur yang dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP 2017) menjadi Rp. 387,3 triliun atau meningkat Rp. 70,2 triliun dari tahun 2016 Rp. 317,1 triliun. Hal inilah yang menjadi daya tarik bagi investor di sektor konstruksi, baik konstruksi gedung, jalan tol, jembatan, power plant, LRT, bendungan, pabrik, migas dan konstruksi lainnya.

Menurut penelitian CDMI, dalam lima tahun terakhir (2012-2016) kinerja perusahaan perusahaan konstruksi dalam negeri meningkat fantastis. Puncak kejayaannya terjadi tahun 2015 dengan pendapatan dan laba yang spektakuler. Dari lima perusahaan milik negara (BUMN) yang diteliti CDMI, PT. Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk memimpin dengan pendapatan Rp. 14,21 triliun, disusul PT. Waskita Karya (Persero) Tbk Rp. 14,15 triliun, PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk Rp. 13,62 triliun, PT. Adhi Karya (Persero) Tbk Rp. 9,38 triliun dan PT. Hutama Karya (Persero) Rp. 6,31 triliun. Hingga September 2016 pendapatannya terus meningkat.

Kinerja perusahaan konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga meningkat fantastis. Menurut penelitian CDMI, PT. Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk memimpin dengan pendapatan Rp. 4,65 triliun, disusul PT. Nusa Raya Cipta Tbk Rp. 3,60 triliun, PT. Total Bangun Persada Tbk Rp. 2,26 triliun, PT. Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk Rp. 1,54 triliun, PT. Acset Indonusa Tbk Rp. 1,36 triliun dan PT. Indonesia Pondasi Raya Tbk Rp. 1,15 triliun. Hal yang sama juga terjadi dengan kinerja perusahaan tertutup yang bersaing ketat untuk memperebutkan proyek-proyek konstruksi.

Perusahaan konstruksi asing yang terlibat dalam bisnis konstruksi Indonesia juga semakin banyak. Persaingan ketat terjadi antara perusahaan konstruksi Jepang dan Korea Selatan. Jepang yang telah lama masuk ke Indonesia memimpin dengan meraih proyek besar dan prestisius, namun Lotte Engineering & Construction asal Korea Selatan sudah mulai memperoleh proyek besar diantaranya membangun pabrik kimia milik PT. Asahimas Chemical di Cilegon seluas 91 hektar. Selengkapnya mengenai tingginya pesangain dunia konstruksi bisa di baca di buku studi kami disini mengenai 25 Top Group Perusahaan Konstruksi.