Studi Industri CPO di Indonesia, 2018 – 2022

Muslim M. Amin : Studi Potensi Bisnis dan Pelaku Utama Industri CPO di Indonesia, 2018 – 2022

MuslimIndustri kelapa sawit memang layak ditetapkan sebagai komoditas strategis, karena telah berkontribusi besar terhadap penerimaan negara, telah memberikan lapangan pekerjaan untuk 4 juta kepala keluarga atau lebih dari 16 juta orang. Jadi sudah seharusnya Pemerintah Indonesia memberikan dukungan untuk kemajuan bisnis ini serta memberikan perlindungan dari serangan berbagai pihak. Sebagai produsen Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia dengan produksi sebanyak 32 juta ton dan produksi Palm Kernel Oil (PKO) sebanyak 3 juta ton, Indonesia berperan besar memenuhi pasokan pangan dan energi dunia.

Menurut riset CDMI, dalam enam tahun terakhir (2012-2017) ekspor CPO dan PKO terus mengalami peningkatan dengan harga yang berfluktuatif. Tahun 2012 ekspor CPO dan PKO sebanyak 20,30 juta ton senilai US$ 19,11 milyar, ditahun 2017 ekspornya mencapai 27 juta ton dengan nilai US$ 18,68 milyar. Permintaan ekspor produk turunan CPO, seperti Biodiesel dan Oleochemical juga terlihat terus meningkat. Khusus untuk oleochemical 80% produknya di ekspor ke berbagai negara yang volumenya terus meningkat. Ekspor Oleochemical tertinggi terjadi pada tahun 2014 sebanyak 3,64 juta ton senilai US$ 3,1 milyar, bandingkan dengan ekspor ditahun 2012 sebanyak 2,26 juta ton dengan nilai US$ 2,23 milyar.

Tidak hanya produk sawit dan turunannya saja yang dibutuhkan dunia, tapi ternyata cangkang sawit juga sangat digemari untuk kebutuhan bahan bakar. Hasil riset CDMI menemukan beberapa negara seperti Korea Selatan, Jepang, Thailand dan Vietnam rutin menerima ekspor cangkang sawit Indonesia. Tahun 2012 ekspor cangkang sawit ke berbagai negara sebanyak 209 ribu ton senilai US$ 14,74 juta, meningkat fantastis ditahun 2016 sebanyak 1,2 juta ton senilai US$ 89,60 juta, di proyeksikan tahun 2017 meningkat lagi menjadi 1,4 juta ton senilai US$ 110,78 juta ton.

Tingginya produksi CPO dan produk turunannya, tidak lepas dari peran group perusahaan konglomerasi sawit, baik asing maupun lokal yang gencar melakukan ekspansi, baik ekspansi kebun dan menambah jumlah pabrik kelapa sawit (PKS) dengan tujuan meningkatkan kapasitas produksi. Peran besar juga dimainkan oleh PTPN dan produksi kebun sawit petani.

Devisa yang dihasilkan dari industri sawit sebenarnya bisa lebih ditingkatkan lagi, asalkan Indonesia bisa meningkatkan produktivitas sawit yang selama ini dianggap rendah karena banyak pohon sawit yang telah uzur dan butuh peremajaan. Program peremajaan kelapa sawit dengan bantuan benih yang baik akan menghasilkan nilai tambah yang di taksir Rp. 125 triliun per tahun.

Hingga 2017 dari sekitar 4,7 juta hektar kebun sawit milik petani, sekitar 2,5 juta hektar kurang produktif. Menyadari akan hal ini pemerintah telah berkomitmen membantu petani melalui pembiayaan yang disediakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit sebesar Rp. 25 juta per hektar, dan tidak ketinggalan ternyata pihak perbankan juga gencar menyalurkan kreditnya untuk program ini.
Melihat besarnya potensi bisnis sawit dalam negeri, membuat CDMI Consulting tertarik melakukan penelitian yang lebih mendalam dan akhirnya sukses menerbitkannya dalam sebuah buku studi yang berjudul “Studi Potensi Bisnis dan Pelaku Utama Industri CPO di Indonesia, 2018 – 2022”.

Buku ini hanya tersedia di PT. CDMI Consulting, dapat dipesan langsung ke bagian marketing dengan ibu Tina melalui telepon: (6221) 3193-0108, 3193-0109, 3193-0070, atau melalui Fax: (6221) 3193-0102 atau email: marketing@cdmione.com dengan harga Rp. 9.000.000,- (Edisi Indonesia), Rp. 9.500.000,- (Edisi Inggris) dan US$ 750 untuk harga luar negeri.

Demikian penawaran kami, atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.