Produk Hasil Kehutanan memberikan devisa bagi Indonesia

Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki keanekaragaman hayati terkaya dan hutan terluas di dunia. Menurut informasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, total luas hutan saat ini mencapai sekitar 120,7 juta hektar. Namun sayangnya kondisi tersebut kini berubah, kerusakan hutan menyebabkan luas hutan di Indonesia mengalami penyusutan setiap tahunnya.

Kerusakan hutan di Indonesia cukup memprihatinkan, bedasarkan informasi yang diperoleh sedikitnya 1,1 juta hektar atau 2% dari hutan Indonesia menyusut setiap tahunnya. Dari sekitar 120,7 juta hektar hutan Indonesia yang tersisa, 42 juta hektar diantaranya sudah habis ditebang.

Dari jumlah tersebut yang merupakan hutan produksi tercatat sebanyak 29,2 juta hektar atau sebesar 24,2% dari total luas hutan di Indonesia. Kemudian hutan produksi terbatas sebanyak 26,7 juta hektar (22,2%) dan hutan produksi yang dapat dikonversi sebanyak 12,9 juta hektar (10,7%). Sedangkan hutan yang tidak dapat diproduksi karena merupakan hutan lindung tercatat sebayak 29,6 juta hektar (24,6%) serta hutan konservasi sebanyak 22,1 juta hektar (18,3%).

Sementara itu dilihat dari luas Hak Pengusahaan Hutan sepanjang periode 2012-2016 mengalami penurunan ratarata mencapai – 3,82% setiap tahunnya. Luas HPH belum dapat dimanfaatkan secara maksimal, hal ini terlihat dari banyaknya perusahaan yang tidak aktif meskipun mendapatkan izin konsesi. Dari 244 perusahaan yang memperoleh izin HPH, terdapat 60 perusahaan yang tidak aktif dengan luas areal mencapai 3,4 juta hektar. Sedangkan sisanya 184 perusahaan merupakan perusahaan yang masih aktif dengan luas areal mencapai 16,9 juta hektar artinya hanya 75,4% dari luas HPH yang masih dimanfaatkan.

Perkembangan produksi hasil hutan berupa kayu selama beberapa tahun belakangan ini rata-rata terus menunjukkan trend yang cukup positif. Produksi kayu gergajian naik 17,68%, plywood 3,09%, veneer 3,14%, kayu bulat naik 3,16%, dan pulp naik 2,13%. Sampai dengan akhir tahun 2016 produksi kayu bulat mencapai 5,9 juta m2, kayu lapis 3,7 juta m3, kayu veneer 1 juta m3, kayu gergajian 1,9 juta m3, dan produk pulp mencapai 5,9 juta ton.

Kemampuan ekspor produk kehutanan dalam kurun 2012-2016 mengalami peningkatan. Meningkatnya ekspor terjadi di hampir seluruh produk kehutanan seperti plywood, kayu gergajian, pulp, dan veneer. Ekspor plywood sepanjang periode tersebut meningkat rata-rata 6,44%, kayu gergajian meningkat ratarata 8,51%, pulp meningkat rata-rata 2,98%, dan veneer meningkat rata-rata 31,42% setiap tahunnya.

Selama lima tahun terakhir (2012-2016) sebagian besar permintaan produk kehutanan di dalam negeri meningkat, dan hanya satu produk kehutanan yang permintaannya turun yaitu kayu lapis. Konsumsi kayu lapis turun – 1,92% per tahun, konsumsi kayu gergajian naik 15,37% per tahun, pulp 1,48%, veneer 2,23% dan kayu bulat naik rata-rata 4,07% per tahun.

Permintaan akan produk hasil hutan seperti kayu di yakini akan terus meningkat, baik itu di pasar dalam negeri maupun di pasar internasional. Namun tantangan bagi industri perkayuan dari waktu kewaktu juga semakin berat. Meski demikian, pemerintah tetap mendorong industri kehutanan di Indonesia tetap berkembang. Apalagi industri kehutanan merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar setelah gas dan minyak bumi. Selengkapnya mengenai kehutanan bisa baca Studi Potensi Bisnis dan Pelaku Utama Industri KEHUTANAN di Indonesia, 2017 – 2022