Konstribusi Tambang Batubara

3. Kontribusi Terhadap Pembangunan/Pengembangan Masyarakat dan Wilayah

Industri tambang batubara memiliki peranan penting dalam pembangunan dan pengembangan masyarakat khususnya di lokasi/tempat pertambangan itu dilakukan dan daerah belakangnya (hinterland). Pembangunan dan pengembangan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sosial serta lingkungan (TJSL) perusahaan pertambangan dalam hal ini tambang batubara.

Berdasarkan informasi dari Kementrian ESDM, jauh sebelum TJSL diatur dalam peraturan perundang-undangan, melalui UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, perusahaan pertambangan baik pemegang PKP2B maupun Kuasa Pertambangan (KP) telah melaksanakan inisiatif Corporate Social Responsibility (CSR). Program yang dilakukan perusahaan pertambangan batubara terutama untuk perusahaan yang sahamnya terdaftar di bursa saham disjikan secara transparan dan akuntabel.

Program dan kegiatan CSR sangat beragam dari masing-masing perusahaan sesuai dengan kondisi masyarakat dan wilayah setempat. Selain tanggung jawab sosial, perusahaan pertambangan batubara juga melaksanakan pengelolaan dan perlindungan lingkungan seperti yang disyaratkan dalam peraturan perundang-undangan. Persyaratan pengelolaan lingkungan menjadi bagian dari AMDAL dan UKL/RPL sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan dalam meminimalkan dampak lingkungan dari kegiatan usaha pertambangan batubara. Dalam pelaksanaan tanggung jawab lingkungan, perusahaan pertambangan batubara juga melaksanakan reklamasi secara rinci dan mengkomunikasikan perencanaan dan pencapaiannya kepada Kementerian ESDM. Di samping itu, perusahaan menyisihkan dana cadangan untuk kegiatan pasca tambang yang diatur secara rinci dalam PP No. 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang.

Selain kontribusi terhadap pengembangan masyarakat, sektor pertambangan khususnya pertambangan batubara, adalah sektor pionir yang berkontribusi terhadap pengembangan wilayah. Sesuai dengan karakteristik fisik alam di wilayah Indonesia, keberadaan sumber daya mineral batubara umumnya berada di wilayah yang sulit dijangkau. Di sisi lain, pemerintah memiliki keterbatasan dalam menyediakan dan membangun infrastruktur yang diperlukan untuk pengembangan usaha. Hal tersebut telah mendorong perusahaan-perusahaan pertambangan batubara menyiapkan dan membangun sendiri infrastruktur berupa jalan, jembatan, jetty, pelabuhan, lapangan terbang, dll. Sebagai industri pionir, industri batubara adalah motor penggerak perekonomian di banyak daerah di Indonesia. Dengan ketersediaan sarana dan prasarana yang dibangun oleh perusahaan pertambangan batubara, telah mendorong pembangunan wilayah atau daerah. Potensi yang dihasilkan pertambangan juga menjadi salah satu alasan dalam pembentukan daerah-daerah otonom baru. Sebagai contoh pemekaran provinsi Kalimantan Timur menjadi provinsi baru Kalimantan Utara adalah bukti kuat bagaimana sektor pertambangan batubara memiliki peran strategis dalam pengembangan wilayah.