Fenomena harga batubara yang semakin terpuruk

Fenomena anjloknya harga batubara dalam beberapa tahun terakhir, telah membuat bisnis yang pernah menjadi primadona tersebut benar-benar terpuruk. Kini banyak perusahaan tambang batubara memilih tidak beroperasi daripada harus membuang banyak biaya maupun tenaga, tetapi margin yang diperoleh sangat tipis. Menurut Direktur Jenderal Minerba Kementrian ESDM dari sekitar 3.000 izin pertambangan batubara, hanya sekitar 20% saja yang masih beroperasi atau sekitar 600 perusahaan, jika kondisi harga batubara terus seperti ini, kemungkinan jumlah perusahaan yang berhenti beroperasi akan semakin bertambah.
Di masa jayanya, harga jual batubara acuan (HBA) mencapai angka di atas US$ 125 per metrik ton. HBA ini dimulai sejak awal 2006 hingga pertengahan 2012. Dengan harga setinggi itu, wajar bila sebagian besar konglomerat Indonesia sangat berminat berinvestasi di batubara. Sayangnya memasuki awal tahun 2013, harga batubara di pasar internasional anjlok dan hingga ahir tahun 2015 semakin jatuh ke titik nadir. Banyak perusahaan tambang menghentikan eksploitasinya, harga-harga saham perusahaan tambang batubara bertumbangan, bahkan sebagian sudah mengibarkan bendera putih alias bangkrut.
Dalam kondisi seperti ini, mengapa CDMI sebagai perusahaan konsultan terkemuka saat ini di Indonesia, berani mengeluarkan studi tentang batubara, Apakah industri batubara khususnya di Indonesia akan mati secara perlahan-lahan. Tentu saja tidak. Selama masih ada usaha pemerintah untuk terus membuka pasar dalam negeri, ada keyakinan bisnis ini akan tetap eksis.
Menurut survey CDMI, konsumsi batubara Indonesia selama periode 2004 s/d 2015 meskipun terlihat berfluktuasi namun cenderung meningkat. Selama periode tersebut rata rata konsumsi batubara dalam negeri tercatat 66.234.460 ton per tahun dengan rata-rata pertumbuhan 5.898.927 ton pertahun atau sekitar 10,71%. Sehubungan dengan adanya program pembangkit listrik 35.000 megawatt, kebutuhan batubara tahun 2016 ditaksir lebih dari 100 juta ton.
Menurut survey CDMI, ditengah kondisi bisnis batubara seperti ini, masih ada beberapa perusahaan yang akan masuk ke industri batubara, sehingga buku riset ini dilengkapi dengan perhitungan investasi untuk membuka tambang batubara baru. Tidak lupa buku ini juga membahas tentang pengaruh industri alat berat yang juga sangat terpukul dengan turunnya industri batubara.
Selengkapnya untuk mengetahui perkembangan industri batubaru hingga 2020 bisa Anda baca di Studi Potensi Bisnis dan Pelaku Utama Industri BATUBARA di Indonesia dan Perhitungan Investasi Penambangan.

2,236 total views, 5 views today