Bisnis Gedung Perkantoran Mengalami Penurunan Dikarenakan Ekonomi Melemah

Saat ini, bisnis gedung perkantoran di Jakarta tidak lagi terkonsentrasi di daerah pusat bisnis (CBD). Keterbatasan lahan serta harga yang tinggi telah mendorong pengembang untuk memperluas ekspansinya di luar kawasan CBD. Pasokan ruang perkantoran telah menyebar ke daerah lain di luar kawasan pusat bisnis, terutama ke Jakarta Selatan, seperti Jalan TB Simatupang. Meskipun demikian, secara umum pasokan ruang perkantoran dikawasan pusat bisnis CBD masih tetap tinggi, baik untuk perkantoran dengan sistem sewa maupun perkantoran dengan sistem strata title.
Menurut survey CDMI, dalam enam tahun terakhir (2010-2015) perkantoran dengan sistem sewa mendominasi pasokan perkantoran di wilayah Jakarta, namun demikian perkantoran dengan sistem strata title terus mengalami peningkatan yang pesat. Tahun 2010 lalu, dari total pasokan ruang perkantoran di Jakarta seluas 6.814.687 M2 perkantoran sewa berkontribusi 87,7% dan perkantoran strata title 12,3%, namun di tahun 2015 lalu kontribusi perkantoran strata title terlihat meningkat pesat, dari total 9.504.100 M2 pasokan ruang perkantoran yang tersedia, perkantoran sewa berkontribusi 82,6% dan perkantoran strata title meningkat menjadi 17,4%.
Survey CDMI juga menemukan bahwa, persentase kontribusi pasokan ruang perkantoran dari kawasan CBD terus mengalami penurunan, dari 80,5% ditahun 2010 menjadi 59,1% ditahun 2015, sebaliknya berkat distribusi pasokan non CBD terus membanjiri pasar, kontribusinya juga terus mengalami peningkatan, dari 19,5% ditahun 2010 menjadi 40,9% ditahun 2015. Dari 34 unit gedung perkantoran yang diluncurkan ditahun 2015, Gedung Sahid Sudirman Centre penyumbang terbesar untuk kawasan CBD seluas 138.500 M2, sedangkan kawasan non CBD disumbang oleh South Quarter tahap I dan II seluas 81.556 M2.
Banyaknya gedung perkantoran baru yang diluncurkan ditahun 2015, membuat pasokan perkantoran bertambah besar, sementara permintaan cenderung terbatas karena ekonomi yang masih melemah, sehingga persaingan harga semakin ketat. Pemilik gedung tampaknya akan semakin berhati hati dalam menentukan harga sewa, apalagi di tahun 2016 kembali hadir 15 gedung perkantoran baru.
Melihat ketatnya persaingan bisnis perkantoran di Jakarta, membuat CDMI sebagai perusahaan konsultan terkemuka di Indonesia, sangat tertarik untuk melakukan riset yang lebih mendalam selama tiga bulan dan akhirnya sukses menerbitkannya dalam sebuah buku yang berjudul Studi Potensi Bisnis PERKANTORAN di Jakarta, 2016 – 2020 Beserta Pengembang Utamanya.