komoditi pangan utama

Studi Tentang 7 KOMODITI PANGAN UTAMA Di Indonesia dan Industri Pupuknya, 2021 – 2025

Program pengembangan industri pertanian khususnya tanaman pangan tidak lepas dari pengembangan industri penunjangnya yaitu industri pupuk. Berhasil tidaknya industri tanaman pangan ini sangat tergantung pada proses
pemupukannya.

Pupuk adalah bahan untuk memperbaiki kesuburan tanah yang menyediakan unsur-unsur hara bagi tanaman. Pemupukan merupakan cara yang sangat efektif untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil tanaman. Pupuk diperlukan bagi tanaman pertanian agar tanaman tersebut dapat memberikan hasil yang tinggi dan menguntungkan.

Dalam rangka pengembangan industri tanaman pangan, Kementerian Pertanian terus berupaya membenahi, baik dari hulu hingga hilir termasuk dalam hal distribusi dan ketersediaan pangan. Dari sisi ketersediaan pangan misalnya, salah satu upaya Pemerintah yakni pembangunan program food estate untuk mempersiapkan pangan rakyat dalam skala ekonomi yang besar.

Semenjak pemerintah mencanangkan program swasembada pangan, dari tahun ketahun hasil produksi 7 komoditi pangan utama yang terdiri dari beras, jagung, kedelai, gandum, ubi kayu, kentang dan tebu (gula) tampak terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2016 produksi 7 komoditi ini tercatat sebesar 64.855 ribu ton naik terus dan menjadi 73.187 ribu ton tahun 2018. Tetapi di tahun 2019 terjadi penurunan sedikit menjadi 71.645 ribu ton. Sementara di tahun 2020 naik lagi menjadi 73.237 ribu ton.

Meningkatnya produksi tersebut tentunya disebabkan karena terus meningkatnya konsumsi di dalam negeri. Menurut penelitian CDMI, pada tahun 2016 konsumsi 7 komoditi pangan utama mencapai 77.564 ribu ton kemudian meningkat 93.245 ribu ton tahun 2018. Pada tahun 2020 terjadi penurunan 90.154 ribu ton. Tetapi di tahun 2020 naik lagi menjadi 99.234 ribu ton.

Dari 7 komoditi pangan utama yang paling besar konsumsinya adalah beras. Pada tahun 2016 konsumsinya mencapai 37.177 ribu ton, sedikit menurun di tahun 2017 menjadi 37.028 ribu ton, di tahun 2018 naik lagi menjadi 39.748 ribu ton, kembali turun menjadi 34.963 ribu ton tahun 2019. Di tahun 2020 naik kembali menjadi 35.348 ribu ton.

Urutan kedua adalah komoditi jagung. Pada tahun 2016 konsumsi jagung di Indonesia mencapai 24.702 ribu ton, naik menjadi 32.245 ribu ton pada tahun 2019. Pada tahun 2020 naik lagi menjadi 32.901 ribu ton. Sementara urutan ketiga adalah komoditi gandum. Pada tahun 2016 konsumsinya sebanyak 10.515 ribu ton, naik menjadi 11.434 ribu ton pada tahun 2017. Pada tahun 2018 turun menjadi 10.094 ribu ton, di tahun 2019 naik kembali menjadi 10.692 ribu ton. Sementara itu di tahun 2020 turun sedikit menjadi 10.422 ribu ton.

Dengan terus meningkatnya produksi 7 komoditi pangan utama tersebut maka tidak heran jika industri pupuk dalam beberapa tahun terakhir juga terus mengalami pertumbuhan. Pemupukan pada tanaman pertanian tidak saja dengan pupuk anorganik yaitu pupuk buatan, tetapi juga pupuk organik yaitu pupuk yang bahan dasarnya dari tumbuh-tumbuhan dan kotoran hewan.

Menurut penelitian CDMI, pada tahun 2019 total konsumsi pupuk untuk pemupukan 7 komoditi pangan utama tersebut sebanyak 30.216 ribu ton, kemudian naik menjadi 36.610 ribu ton pada tahun 2020. Pada tahun 2021 ini diperkirakan total konsumsinya mencapai 39.492 ribu ton, kemudian diproyeksikan akan mencapai 46.876 ribu ton pada tahun 2025.

CDMI Consulting sebagai perusahaan konsultan ekonomi yang independen tertarik untuk melakukan riset yang lebih mendalam terkait komoditi pangan ini dan akhirnya sukses menerbitkannya dalam sebuah buku riset yang berjudul “Studi Tentang 7 KOMODITI PANGAN UTAMA Di Indonesia dan Industri Pupuknya, 2021 – 2025

Buku ini hanya tersedia di PT. CDMI Consulting, dapat dipesan langsung ke bagian marketing dengan ibu Tina melalui telepon: (6221) 3193-0108, 3193-0109, 3193-0070, WhatsApp (WA) 0878 7826 0925 atau melalui Fax: (6221) 3193-0102 atau email: marketing@cdmione.com dengan harga Rp. 9.500.000,-.

Demikian penawaran kami, atas perhatian dan
kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.