perusahaan batubara di indonesia

Ditengah melemahnya ekonomi Indonesia dan ekonomi dunia dalam tiga tahun terakhir (2016-2018), produksi batubara dalam negeri justeru terus meningkat. Pada tahun 2016 produksi batubara Indonesia sebanyak 434 juta ton, ditahun 2018 meningkat menjadi 485 juta ton dan diprediksi tahun 2019 sebesar 490 juta ton. Sebagian besar batubara Indonesia diekspor ke berbagai negara dengan nilai ekspor yang berfluktuatif. Tahun 2017 ekspor batubara Indonesia sebanyak 298 juta ton senilai US$ 22,08 miliar, tahun 2018 ekspornya meningkat sebanyak 395 juta ton, namun akibat harga batubara yang menurun, nilai nya merosot tajam menjadi US$ 19,01 miliar.

Meningkatnya produksi batubara Indonesia, akibat tingginya kinerja perusahaan batubara dalam negeri, yang terus melakukan ekspansi untuk meningkatkan kapasitas produksi dengan mengeluarkan investasi yang besar. Hasil investigasi CDMI terhadap 35 TOP group perusahaan batubara Indonesia, tahun 2017 lalu sebagian besar group perusahaan ini sukses meraih pendapatan dan laba yang fantastis.

ASTRA Group sukses membukukan pendapatan sebesar Rp. 64,55 triliun dengan laba Rp. 7,40 triliun, ADARO Group US$ 3,25 miliar dengan laba US$ 483,29 juta, BANPU PLC Group US$ 1,68 miliar dengan laba US$ 252,60 juta, BUKIT ASAM Group Rp. 19,47 triliun dengan laba Rp. 4,47 triliun, SINAR MAS Group US$ 1,32 miliar dengan laba US$ 85,62 juta, INDIKA Group US$ 1,09 miliar dengan laba US$ 335,41 juta, BAYAN Group US$ 1,06 miliar dengan laba US$ 319,81 juta, BARAMULTI Group US$ 392,57 juta dengan laba US$ 82,81 juta, TANITO Group US$ 325,59 juta dengan laba US$ 45,27 juta, TOBA Group US$ 310,70 juta dengan laba US$ 21,43 juta, bahkan BUMI Resources Group yang sebelumnya selalu merugi sudah kembali meraih laba, dan masih banyak perusahaan lainnya
yang dibahas dibuku ini. Ditahun 2018 group perusahaan ini kembali sukses meningkatkan pendapatannya.

Baca juga : Industri Jasa Angkutan Barang di Indonesia

Besarnya pendapatan dan laba yang diraih oleh perusahaan batubara juga disumbang dari pendapatan pembangkit listrik yang mereka jalankan. Banyak perusahaan batubara yang sukses melakukan diverisifikasi usaha ke industri pembangkit listrik dengan mengeluarkan investasi yang fantastis. Besarnya investasi untuk masuk ke bisnis pembangkit listrik membuat group perusahaan batubara memikul beban hutang yang sangat besar, baik dari perbankan dalam negeri, maupun dari luar negeri, jika tidak pandai mengelolanya bisa saja mendapat masalah dikemudian hari.