Home About UsOur ProductsOur ServicesContact Us
 



 

 

 

 

   

 

 

 

* INVESTASI ASING LANGSUNG (FDI) DI INDONESIA

Penanaman modal asing langsung merupakan investasi yang dilakukan oleh swasta asing ke suatu negara tertentu, bentuknya bisa berupa cabang perusahaan multinasional, lisensi, joint venture dan lain lain. Pengaruh investasi asing (FDI) mempunyai arti penting terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sampai saat ini konsep pembangunan dengan menggunakan modal asing dipandang sebagai cara yang lebih efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, melalui FDI dapat memberikan kontribusi yang lebih baik terhadap pembangunan.

Indonesia sangat membutuhkan investasi asing untuk menunjang pertumbuhan ekonomi maupun perluasan tenaga kerja, upaya untuk menarik investor asing sudah dilakukan oleh pemerintah, diantaranya dengan menerapkan beberapa kebijakan penting secara efektif untuk menggenjot investasi. Kebijakan dibidang kepastian hukum, pelayanan terpadu satu pintu (PTSP), paket paket insentif pemerintah seperti penyederhanaan mekanisme perizinan, undang undang perburuhan, iklim investasi yang kondusif dan pemangkasan birokrasi.

Indonesia memiliki kekuatan untuk menarik investasi asing sebesar besarnya, kekuatan itu diantaranya adalah memiliki sumber daya alam yang melimpah, menjadi negara Emerging Asia dengan pasar yang besar, pasar domistik yang kokoh dan situasi politik yang stabil.

 

kembali keatas


* PERTUMBUHAN INVESTASI ASING (FDI) DI INDONESIA TAHUN 2009


 

Menurut laporan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), perkembangan realisasi investasi asing di Indonesia diluar sektor minyak & gas, perbankan, lembaga keuangan non bank dari tahun 2004 sampai 2009 menunjukkan tren pluktuatif. Pada tahun 2004 realisasi investasi asing sebesar US$ 4.572,7 juta dengan 548 proyek, naik menjadi US$ 8.911,0 juta ditahun 2005 dengan 907 proyek, namun menurun ditahun 2006 menjadi US$ 5.991,7 dengan 869 proyek, naik lagi ditahun 2007 dan 2008 sebesar US$ 10.341,4 juta dengan 982 proyek dan US$14.871,4 juta dengan 1.138 proyek, akibat pengaruh krisis global investasi asing di tahun 2009 mengalami penurunan menjadi US$ 10.815,2 juta dengan jumlah proyek sebanyak 1.221. Untuk lebih jelasnya tentang realisasi investasi asing selama 10 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut ini.

 

Perkembangan Realisasi Investasi Asing, Tahun 2000 2009

Sumber : BKPM / Sources  : BKPM
Catatan/Note :
1.     Diluar Investasi Sektor Minyak & Gas Bumi, Perbankan, Lembaga Keuangan Non Bank, Asuransi Sewa Guna Usaha,

      Pertambagan dalam rangka Kontrak Karya, Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara, investasi yang

      perizinannya dikeluarkan oleh Instansi Teknis / Sektor, Investasi Porto Folio (Pasar Modal) dan Investasi Rumah Tangga /

      Excluding of Oil & Gas, Banking, Non Bank Financial Institution, Insurance, Leasing Mining In Terms of Contracts of Work, Coal

      Mining In Terms of Agreement of Work, Investment Which Licenses Issued by Technical / Sectoral Agency,Porto Folio as well as

      Household Investment
2.      Proyek : Jumlah Izin Usaha Tetap yang Dikeluarkan / Projects : Total of Issued Permanent Licenses
3.      Data Sementara, termasuk Izin Usaha Tetap yang dikeluarkan oleh daerah yang di terima BKPM sampai dengan 31 Desember

      2009 / Tentative Data, including Permanent Licenses Issued by regions received by BKPM until December 31, 2009. 

Peringkat realisasi investasi asing menurut negara pada tahun 2009, ternyata yang tertinggi berasal dari Singapore dengan nilai investasi sebesar US$ 4.341 juta dengan jumlah proyek sebanyak 189, disusul oleh Belanda dengan nilai investasi sebesar US$ 1.198,7 juta dengan 32 proyek, kemudian Jepang senilai US$ 678,9 juta dengan 124 proyek, selanjutnya Korea Selatan senilai US$ 624,8 juta dengan 186 proyek terahir Inggris senilai US$ 587,7 juta dengan 61 proyek. Peringkat 20 Besar Realisasi FDI Menurut Negara dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

 

Peringkat 20 Besar Realisasi FDI Menurut Negara, 2009

Sumber : BKPM / Sources  : BKPM

Catatan/Note :

1.   Diluar Investasi Sektor Minyak & Gas Bumi, Perbankan, Lembaga Keuangan Non Bank, Asuransi Sewa Guna Usaha, Pertambagan dalam rangka Kontrak Karya, Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara, investasi yang perizinannya dikeluarkan oleh Instansi Teknis / Sektor, Investasi Porto Folio (Pasar Modal) dan Investasi Rumah Tangga / Excluding of Oil & Gas, Banking, Non Bank Financial Institution, Insurance, Leasing Mining In Terms of Contracts of Work, Coal Mining In Terms of Agreement of Work, Investment Which Licenses Issued by Technical / Sectoral Agency,Porto Folio as well as Household Investment

2.     Proyek : Jumlah Izin Usaha Tetap yang Dikeluarkan / Projects : Total of Issued Permanent Licenses

3.     Data Sementara, termasuk Izin Usaha Tetap yang dikeluarkan oleh daerah yang di terima BKPM sampai dengan 31

      Desember 2009 / Tentative Data, including Permanent Licenses Issued by regions received by BKPM until December 31,

      2009.

Sektor usaha yang paling banyak diminati oleh investasi asing pada tahun 2009 adalah sektor transportasi, gudang dan komunikasi sebanyak 51 proyek dengan nilai investasi yang ditanamkan sebesar US$ 4.170,5 juta, disusul kemudian oleh Industri kimia dan farmasi sebanyak 41 proyek dengan investasi US$ 1.183,1 juta, pada posisi ke tiga adalah sektor perdagangan dan reparasi sebanyak 424 proyek dengan nilai investasi sebesar US$ 706,1 juta, selanjutnya berturut turut sektor Industri logam,mesin & elektronik sebanyak 121 proyek dengan nilai US$ 654,9 juta dan terakhir sektor industry kendaraan bermotor dan alat transportasi lain sebanyak 52 proyek dengan nilai investasi sebesar US$ 583,4 juta. Untuk lebih jelas dapat melihat tabel berikut.

 

Peringkat 10 Besar Realisasi Investasi menurut sektor Industri Tahun 2009

Sumber : BKPM / Sources  : BKPM

Catatan/Note :

1.  Diluar Investasi Sektor Minyak & Gas Bumi, Perbankan, Lembaga Keuangan Non Bank, Asuransi Sewa Guna Usaha, Pertambagan dalam rangka Kontrak Karya, Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara, investasi yang perizinannya dikeluarkan oleh Instansi Teknis / Sektor, Investasi Porto Folio (Pasar Modal) dan Investasi Rumah Tangga / Excluding of Oil & Gas, Banking, Non Bank Financial Institution, Insurance, Leasing Mining In Terms of Contracts of Work, Coal Mining In Terms of Agreement of Work, Investment Which Licenses Issued by Technical / Sectoral Agency,Porto Folio as well as Household Investment

2.    Proyek : Jumlah Izin Usaha Tetap yang Dikeluarkan / Projects : Total of Issued Permanent Licenses

3.   Nilai Realisasi Investasi PMA dalam US$. Juta / Value of Foreign Investment Realization in Million US$. Data Sementara, termasuk Izin Usaha Tetap yang dikeluarkan oleh daerah yang di terima BKPM sampai dengan 31 Desember 2009 / Tentative Data, including Permanent Licenses Issued by regions received by BKPM until December 31, 2009

Jika kita melihat peringkat realisasi investasi tahun 2009 menurut lokasi, ternyata wilayah DKI Jakarta adalah yang paling banyak diminati investasi asing Jakarta menduduki posisi teratas dengan 459 proyek senilai US$ 5.510,8 juta, disusul Jawa Barat dengan 293 proyek dengan nilai US$ 1.934,4 juta, kemudian Banten dengan jumlah 92 proyek senilai US$ 1.412,0 juta, Jawa Timur dengan 67 proyek senilai US$ 422,1 juta disusul kemudian Riau dengan 8 proyek senilai US$ 251,6 juta, berikut adalah 10 besar investasi asing menurut wilayah:

Peringkat 20 Besar Realisasi Investasi Asing menurut wilayah Tahun 2009

Sumber : BKPM / Sources  : BKPM

Catatan/Note :

1.   Diluar Investasi Sektor Minyak & Gas Bumi, Perbankan, Lembaga Keuangan Non Bank, Asuransi Sewa Guna Usaha, Pertambagan dalam rangka Kontrak Karya, Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara, investasi yang perizinannya dikeluarkan oleh Instansi Teknis / Sektor, Investasi Porto Folio (Pasar Modal) dan Investasi Rumah Tangga / Excluding of Oil & Gas, Banking, Non Bank Financial Institution, Insurance, Leasing Mining In Terms of Contracts of Work, Coal Mining In Terms of Agreement of Work, Investment Which Licenses Issued by Technical / Sectoral Agency,Porto Folio as well as Household Investment

2.   Proyek : Jumlah Izin Usaha Tetap yang Dikeluarkan / Projects : Total of Issued Permanent Licenses

3.   Nilai Realisasi Investasi PMA dalam US$. Juta / Value of Foreign Investment Realization in Million US$.

4.   Data Sementara, termasuk Izin Usaha Tetap yang dikeluarkan oleh daerah yang di terima BKPM sampai dengan 31 Desember 2009 / Tentative Data, including Permanent Licenses Issued by regions received by BKPM until December 31, 2009

kembali keatas


* INVESTASI ASING KE NEGARA BERKEMBANG


Menurut Bank Dunia, penanaman modal asing langsung (FDI) ke negara negara berkembang pada tahun 2008 adalah sebesar US$ 583 miliar naik sedikit dibanding dengan tahun 2007 sebesar US$ 520 miliar. Penyerapan terbesar investasi asing ke negara negara berkembang ialah kelompok negara berpendapatan menengah, seperti, Brazil, India,  Rusia dan China, sedangkan investasi asing langsung yang masuk ke negara negara maju malah menurun tajam, dari sebesar US$ 1,3 triliun pada tahun 2007 menjadi hanya US$ 827 miliar pada tahun 2008. Dalam jangka menengah (2010-2015), investasi asing langsung akan berangsur pulih.

 

Negara negara dengan pasar domistik yang besar akan lebih diminati, jika sebelumnya negara seperti Brazil, India, Rusia dan China (BRIC) berada pada posisi puncak, dimasa datang perekonomian domistik yang relatif besar pada lapisan kedua akan menjadi target ekspansi perusahaan perusahaan multinasional dunia seperti, Indonesia, Korea dan Taiwan.

 

Negara negara yang tergabung dalam BRIC sudah mulai melakukan investasi di negara negara berkembang, mereka menanamkan investasinya disemua sektor seperti sektor manufactur, industry kimia dan farmasi, elektronik,  batubara, oil dan Gas, Geothermal, industry logam dan jasa. Mereka tidak mau ketinggalan dengan negara nagara lain yang sudah  hadir terlebih dahulu, maka bisa dipastikan investasi asing langsung yang masuk ke negara negara berkembang lebih cepat pulih dibandingkan negara maju.

 

Indonesia diharapkan dapat menciptakan iklim investasi yang kondusif dan kemudahan dalam berinvestasi,  serta menghadirkan kelengkapan infrastruktur seperti pembangunan jalan raya, jembatan dan tersedianya pasokan listrik PLN yang memadai, agar investasi asing langsung banyak yang terserap.

 

kembali keatas


* Investasi Asing di Sektor Otomotif & Komponen Spare Part


Industri Mobil di Indonesia

 

Indonesia saat ini memiliki potensi dan peluang yang sangat besar dalam industri otomotif, itu terlihat dari angka penjualan mobil dan sepeda motor yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Menurut data yang kami peroleh dari GAIKINDO  angka penjualan mobil dari tahun 2000-2009 berpluktuatif, penjualan yang sangat tinggi terjadi pada tahun 2008 yang mencapai angka penjualan sebesar 607.805 unit, akibat krisis di tahun 2009 jumlah penjualannya menurun menjadi 486.943 unit, memasuki kwartal pertama tahun 2010 angka penjualan mobil sudah mencapai 173.989 unit, meningkat 73% dari tahun 2009 yang hanya 100.384 unit.

 

Investasi Jepang di Sektor Otomotif & komponen Sparepart

 

Menurut pengamatan CDMI Investasi Asing di sector Industri otomotif dan komponen spare part di kuasai oleh investasi asing asal Jepang, mereka merajai sector ini dengan group perusahaan yang sudah sangat terkenal di Indonesia yaitu Group Astra International, produk otomotif yang mereka keluarkan selalu disukai oleh pasar dan menjadi pemimpin pasar , seperti produk mobil dengan merek Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, Suzuki, Honda, Nissan dan Isuzu sudah sangat melekat di Indonesia.

 

Pada tahun 2009 penjualan Toyota berada di posisi puncak dengan total penjualan sebanyak 186.987 unit, disusul oleh Daihatsu di posisi ke dua dengan penjualan sebanyak 77.515 unit, yang berhasil menggeser posisi Mitsubishi dengan penjualan sebanyak 61.735 unit, selanjutnya posisi ke empat diduduki oleh Suzuki dengan angka penjualan sebanyak 44.689 unit dan posisi ke lima dipegang oleh Honda dengan penjualan sebanyak 39.570 unit. Untuk jelasnya lihat table di bawah ini : 

 

Peringkat Penjualan Mobil di Indonesia, 2009

 

Indonesia diharapkan menjadi salah satu pusat industri otomotif di kawasan Asia Tenggara, seperti halnya Thailand yang dikenal dengan Detroit of Asia,  indikasinya adalah suksesnya penyelenggaraan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2010, yang mencatat angka penjualan yang fantastis.

 

Data resmi yang dikeluarkan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (GAIKINDO), angka penjualan mobil dalam 10 hari event tersebut mencapai lebih dari 2,5 triliun rupiah dengan penjualan sebanyak 10.913 unit mobil.

 

Untuk mengetahui pertumbuhan Investasi asing di sector Industri Otomotif, berikut kami sampaikan Standard Report PT. CDMI

 

Pertumbuhan PT. ASTRA DAIHATSU MOTOR

 

Perusahaan ini didirikan pada tahun 1978 dengan modal sebesar Rp. 622.500.000.000, Pada Juni 2009 modal perusahaan ini ditingkatkan menjadi Rp. 894.370.000.000,- dengan pemegang saham terbesar adalah Daihatsu Motor Co Ltd (61,75%), Toyota Tsusho Corporation Japan (6,3%) dan dari Indonesia adalah PT. Astra International Tbk sebesar (31,87%). Menurut prediksi CDMI, perusahaan ini selalu mendapatkan keuntungan setiap tahunnya, pada tahun 2005 keuntungan perusahaan ini sebesar Rp. 220,2 milyar, turun menjadi Rp. 180,1 milyar pada tahun 2006, namun naik lagi pada tahun 2007 sebesar Rp. 400,9 milyar dan terahir pada tahun 2009 keuntungannya turun sedikit menjadi Rp. 300,8 milyar.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Takashi Nomoto sebagai President Director dan Mr. S. Maman Rusdi sebagai Vice President Director.

 

Pertumbuhan PT. ASTRA NISSAN DIESEL INDONESIA

 

Perusahaan ini didirikan pada tahun 1984 dengan modal sebesar Rp. 2.000.000.000, semula perusahaan ini bernama PT. United Imer Moros. Pada tahun 1994 modal perusahaan ini ditingkatkan menjadi Rp. 20.000.000.000 dan pada tahun 2004 kembali modalnya ditingkatkan menjadi Rp. 100.000.000.000 dengan pemegang saham terbesar adalah PT. Astra International Tbk (75%), kemudian Nissan Diesel Motor Co Japan (12,5%) dan Marubeni Corporation Japan (12,5%).

 

Menurut laporan keuangan yang kami miliki perusahaan ini selalu membukukan keuntungan, pada tahun 2007 keuntungan perusahaan ini sebesar Rp. 39,8 milyar turun sedikit dibanding tahun 2008 sebesar Rp. 23,2 milyar.

 

 Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Ir. Stefanus Sutomo sebagai President Director dibantu oleh Mr. Henry Christianto Widjaja, Mr. Noboyuki Yamaji, Mr. Kenichi Higuchi dan Mrs. Endang Indriati sebagai Director.

 

Pertumbuhan PT. ISUZU ASTRA MOTOR INDONESIA

 

Perusahaan ini didirikan pada tahun 1974 dengan modal sebesar Rp. 950.000.000,- Pada Desember 2008 modal perusahaan ini di tingkatkan menjadi Rp. 92.000.000.000,- dengan pemegang sahamnya adalah PT. Astra International Tbk (44,94%), Isuzu Motor Co Ltd (44,94%) dan PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (10,12%)

 

Dalam kegiatan usahanya perusahaan ini selalu membukukan laba, pada tahun 2007 keuntungan perusahaan ini diperkirakan sebesar Rp. 140,4 milyar dan tahun 2008 keuntungannya sebesar Rp. 115,4 milyar.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Kenji Matsuo sebagai President Director, Mr. Johannus Nagoi sebagai Vice President Director dan dibantu oleh lima orang Direktur antara lain Mr. Henry Eric Wirawan. MM, Mr. Katsuro Ishihara, Mr. Ari A. Mariono, Mr. Yoshitaka Inouchi dan Mr. Shigeru Noda.

 

Pertumbuhan PT. NISSAN MOTOR INDONESIA

 

Semula perusahaan ini bernama PT. Ismac Nissan Manufacturing, didirikan pada tahun 1995 dengan modal sebesar Rp. 37.825.000.000,- Pada tahun 2001 perusahaan ini berganti nama menjadi PT. Nissan Motor Indonesia dan modal perusahaan ini ditingkatkan menjadi Rp. 83.215.000.000.- Pada tahun 2002 kembali modal perusahaan ini ditingkatkan menjadi Rp. 124.600.000.000,- dengan pemegang saham terbesar adalah Nissan Motor Co Ltd Jepang sebesar Rp. 103.796.250.000,- kemudian PT. IMG Sejahtera Langgeng sebesar Rp. 17.021.250.000,-  dan PT. Indomobil Sukses International Tbk sebesar Rp. 3.782.500.000.

 

 Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Takayuki Kimura dan dibantu oleh empat orang direktur yaitu Mr. Jusak Kartowidjojo, Mr. Christian Iskandar, Mr. Akihisa Suzuki dan Mr. Toru Takahashi.

 

Pertumbuhan PT. TOYOTA ASTRA MOTOR

 

Perusahaan ini didirikan pada 15 July 2003 dengan modal sebesar Rp. 400.000.000.000,- pemegang sahamnya adalah PT. Astra International Tbk sebesar 51% dan Toyota Motor Corporation Japan 49%. Menurut pengamatan CDMI perusahaan ini selalu mendapatkan keuntungan dalam operasinya, pada tahun 2007 keuntungan perusahaan ini mencapai Rp. 288.1 milyar naik menjadi Rp. 504,7 milyar pada tahun 2008.

 

 Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Johnny Darmawan Danusasmita sebagai President Director, Mr. Keichi Murakami sebagai Vice President Director dan dibantu oleh empat orang Direktur diantaranya adalah Mr. Joko Trisanyoto, Mr. Shinji Yamasaki, Mr. Benny Redjo Setyono dan Mr. Hirohiko Fukatsu.

 

Pertumbuhan PT. SUZUKI INDOMOBIL MOTOR

 

Perusahaan ini didirikan pada tahun 1990 dengan nama PT Indomobil Suzuki International, dengan modal sebesar US$ 30.000.000,- Pemegang sahamnya saat itu adalah PT. Indomobil Suzuki International, PT. Indomobil Utama dari Indonesia dan Suzuki Motor Co Ltd dari Jepang. Pada November 1999 modal perusahaan ini ditingkatkan menjadi US$ 45.000.000,- (Rp. 88.607.000.000) dan pemegang sahamnya juga berubah menjadi Suzuki Motor Corporation Japan (90%) dan PT. Sumber Artha Perdana (10%).

 

Menurut perkiraan  CDMI, pada tahun 2007 keuntungan perusahaan ini sebesar Rp. 60,9 milyar, turun pada tahun 2008 hanya sebesar Rp. 30,5 milyar. Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Yoshiji Terada sebagai President Director dan dibantu oleh empat orang Direktur antara lain Mr. Hidekuni Ishizuka, Mr. Gunadi Sindhuwinata, Mr. Kenji Saito dan Mr. Hidenori Yamashita.

 

kembali keatas


* INVESTASI ASING DI SEKTOR INDUSTRI  BATUBARA


Dalam sepuluh tahun terakhir, industry batubara telah memainkan peranan yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia, industry ini memberikan sumbangan yang besar terhadap penerimaan negara yang jumlahnya selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004 penerimaan negara dari sector batubara mencapai 2,57 triliun rupiah dan lima tahun kemudian pada tahun 2009 penerimaan negara dari sector ini sudah mencapai lebih dari  20 triliun rupiah.

 

Batubara merupakan salah satu energi alternatif yang memiliki pertumbuhan yang sangat pesat, baik dari segi produksi maupun ekspor, hal ini yang membuat industri batubara semakin populer, apalagi batubara juga sangat dibutuhkan sebagai energy pembangkit, saat ini lebih dari 70% dari konsumsi batubara dalam negeri diserap oleh pembangkit listrik (PLN), sisanya untuk industry semen, industry tekstil, kertas dan lain lain.

 

Salah satu wilayah Indonesia yang mempunyai potensi batubara yang sangat besar adalah pulau Kalimantan, wilayah ini banyak mengandung sumber daya batubara dengan ketebalan yang bervariasi, dan endapan batubara tersebar sangat luas. Saat ini banyak sekali perusahaan perusahaan batubara baik lokal maupun asing yang melakukan kegiatan eksplorasi diwilayah ini dan banyak yang telah melakukan kegiatan produksi.

 

Indonesia adalah negara pengekspor batubara nomor dua terbesar di dunia setelah Australia, menurut data yang kami peroleh dari Biro Pusat Statistik, sejak tahun 2001 hingga 2009 Produksi dan ekspor batubara Indonesia terus meningkat. Tahun 2001 Produksi batubara sebesar 90.351 ribu ton dan ekspornya sebesar 66.505 ribu ton, tahun 2002 Produksinya sebesar 103.060 ribu ton dengan nilai ekspor sebesar 73.124 ribu ton naik lagi di tahun 2003 dengan produksi sebesar 114,610 ribu ton dan nilai ekspor sebesar 89,021 ribu ton, pada tahun 2004 produksi batubara Indonesia naik lagi sebesar 126,850 ribu ton dengan ekspor sebesar 105,629 ribu ton berikutnya pada tahun 2005 produksinya sudah mencapai 152,722 ribu ton dengan ekspor sebesar 129.044 ribu ton, untuk melihat perkembangan produksi dan ekspor batubara di Indonesia dapat melihat tabel dibawah in :

 

Pertumbuhan produksi dan Ekspor Batubara di Indonesia 2001-2009

 

 

Sebagian besar produksi batubara Indonesia atau sekitar 73% di ekspor ke luar negeri, sisanya sekitar 27% dikonsumsi didalam negeri, negara tujuan ekspor batubara Indonesia adalah Jepang, Taiwan, Korea, China dan lain lain. Pada tahun 2010 ini Indonesia di perkirakan mampu memproduksi batubara sebesar 275 juta ton, lebih tinggi dari target pemerintah yang hanya sebesar 250 juta ton.

 

Pemain utama dalam industry batubara di Indonesia, banyak dikuasai oleh perusahaan perusahaan asing dari Jepang, Singapura, Amerika Serikat, Korea Selatan, Taiwan, Belanda, Mauritius dan lain lain, nama nama perusahaan itu sudah sangat dikenal di Indonesia, seperti :

PT. Indo Tambangraya Megah, PT. Adaro Indonesia, PT. Berau Coal, PT. Arutmin Indonesia, PT. Kideco Jaya Agung, PT. Kaltim Prima Coal,  PT. Multi Harapan Utama,  dan masih banyak lagi yang lainnya.

 

Menurut pengamatan CDMI, dalam lima tahun terakhir produksi batubara dari perusahaan perusahaan tersebut selalu meningkat tajam dan itu berakibat meningkat nya keuntungan yang mereka dapatkan, berikut adalah Standard Report PT. CDMI.

 

Pertumbuhan PT. ADARO INDONESIA

 

Perusahaan ini didirikan pada tahun 1982 dengan modal sebesar US$ 400.000,- pemegang saham saat itu adalah Empresa Nacional De Investigaciones Mineras,SA dari Madrid, Spanyol, pada tahun 1998 modal perusahaan ini ditingkatkan menjadi US$ 7.000.000,-  dan pemegang sahamnya adalah New Hope Corp Pty Ltd dari Australia (50%), Mission Energy Company Indo Coal dari Belanda (10%) dan dari Indonesia adalah PT. Asmico Bara Utama (40%), terakhir pada September 2008 modal perusahaan ini ditingkatkan menjadi Rp. 119.426.580.000,- dengan pemegang saham diantaranya adalah : PT. Alam Tri Abadi (60,23), PT. Viscaya Investment (28,32%), PT. Dianlia Setyamukti (5,84%), Indonesia Coal PTY Ltd dari  Australia (4,67%) dan Mec Indo Coal BV dari Belanda (0.94%).

 

Produksi batubara PT. Adaro Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, pada tahun 2005 produksinya mencapai 26,61 juta ton dengan penjualan sebesar 26,09 juta ton, setahun kemudian pada tahun 2006 produksinya mencapai 34,59 juta ton dengan penjualan sebesar 34,46 juta ton. Untuk jelasnya dapat melihat tabel dibawah ini :

 

Jumlah Produksi dan Penjualan PT. Adaro Indonesia 2005-2009  

 

 

Menurut laporan keuangan yang kami terima sales turn over perusahaan ini dalam empat tahun terakhir selalu meningkat, pada tahun 2005 angka penjualannya mencapai UU$ 697 juta, dengan keuntungan sebesar US$ 47,8 juta, sedangkan pada tahun 2006 angka penjualannya mencapai US$ 1.003 juta  dengan keuntungan bersih sebesar US$ 48,5 juta, setahun kemudian pada tahun 2007 penjualannya meningkat sebesar US$ 1,146 juta dengan keuntungan bersih mencapai US$ 35,9 juta dan terakhir pada tahun 2008 penjualannya sebesar US$ 1,617 juta dengan keuntungan bersih sebesar US$ 201,5 juta.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh orang orang yang sangat berpengalaman dalam bisnis batubara diantaranya adalah Mr. Boy Garibaldi Thohir, sebagai President Director, Mr. Christian Ariano Rachmat sebagai Vice President Director dan dibantu oleh lima orang direktur diantaranya adalah Mr. Sandiaga Salahuddin Uno,MBA, Mr. David Tendian, Mr. Alastair Bruce Grant, Mr. Chia Ah Hoo, Mr. Andre Johannes Mamuaya.

 

Pertumbuhan PT. INDO TAMBANGRAYA MEGAH, Tbk.

 

Perusahaan ini didirikan pada September 1987 dengan modal sebesar Rp. 5.000.000.000,- pemegang sahamnya saat itu adalah Mr. Soemarno dan Mr. Solichin Sumadjo dari Indonesia. Pada Juni 2007 modal perusahaan ini ditingkat menjadi Rp. 1.500.000.000.000,- dan pemegang sahamnya adalah PT. Centralink Wisesa International dan PT. Sigma Buana Cemerlang.

 

Pada Desember 2007, saham perusahaan ini dijual melalui pasar modal sebesar 20% dan saat itu posisi PT Centralink Wisesa International dan PT. Sigma Buana Cemerlang digantikan oleh BANPU MINERALS dari Singapura.

 

Saat ini pemegang saham terbesar  PT. Indo Tambangraya Megah,Tbk adalah Banpu Minerals Pte Ltd  sebesar Rp. 416.492.000.000, Publik sebesar Rp. 148.334.000.000,- dan sisanya terbagi untuk tujuh orang pemegang saham pribadi.

 

Produksi batubara PT. Indo Tambangraya Megah dalam tiga tahun terakhir menunjukkan angka peningkatan, pada tahun 2008 produksinya mencapai 17,6 juta ton dan pada tahun 2009 produksinya meningkat menjadi 20,05 juta ton, diharapkan pada tahun 2010 ini produksinya dapat mencapai 23 juta ton.

 

Pada semester pertama tahun 2010 PT. Indo Tambangraya Megah telah memasarkan produknya ke China sebanyak 2,7 juta ton, ke Jepang 2,3 juta ton, ke Taiwan 1,1 juta ton, ke Italia 0,9 juta ton dan ke beberapa negara lain seperti Korea Selatan, Filipina, Thailand, Malaysia dan Hongkong.

 

Menurut pengamatan CDMI, dalam empat tahun terakhir sales turn over perusahaan ini selalu meningkat, pada tahun 2006 penjualannya sebesar US$ 732 juta dengan keuntungan sebesar US$ 23,2 juta, pada tahun 2007 penjualannya mencapai US$ 771 juta dengan keuntungan sebesar US$ 56,7 juta setahun kemudian penjualannya meningkat menjadi US$ 1.316 juta dengan keuntungan sebesar US$ 234,9 juta dan terakhir pada tahun 2009 angka penjualannya turun menjadi 1,045 juta dengan keuntungan yang meningkat mencapai US$ 265,8 juta.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Somyot Ruchirawat sebagai President Director, dibantu oleh empat orang Direktur antara lain : Mr. Pongsak Thongampai, Mr. Aphimuk Taifayongvichit, Mr. Mahyudin Lubis, Mr. Edward Manurung SE, mereka adalah orang orang yang sangat berpengalaman dalam berbisnis di Indonesia.

 

Pertumbuhan PT.  ARUTMIN INDONESIA

 

Perusahaan ini didirikan pada tahun 1981 dengan modal sebesar US$ 4.000.000,-  pendiri perusahaan ini adalah Utah Exploration Inc dan Atlantic Inc keduanya dari USA, setelah beberapa kali mengalami perubahan pemegang saham, saat ini pemegang sahamnya adalah PT. Bumi Resources Tbk (70%) dan Tata Power Ltd dari Mauritius (30%).

 

Produksi batubara PT Arutimin Indonesia pada tahun 2009 mencapai 22,42 juta ton di harapkan meningkat pada tahun 2010 sebanyak 24,3 juta ton.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Nalinkant Amratlal Rathod sebagai President Director dibantu oleh tiga orang Director yaitu Mr. Sowmyan Ramakrishnan, Mr. Robert Bismarka Kurniawan, Mr. Evan William Ball. Mereka sangat berpengalaman dalam menjalankan bisnis batubara.

 

Pertumbuhan PT. BERAU COAL

 

Perusahaan ini didirikan pada April 1983 dengan modal sebesar US$ 3.000.000,- pemegang sahamnya saat itu adalah Nissho Iwai Corp dari Jepang dan Opheliz Investment Ltd dari Hongkong. Pada Juni 2000 modal perusahaan ini ditingkatkan menjadi US$ 17.400.000,- . Pemegang sahamnya saat ini adalah PT. Armadian Tritunggal, Rognar Holding BV dan Sojitz Corporation.

 

Data yang di miliki oleh CDMI, menyebutkan produksi batubara PT. Berau Coal pada tahun 2009 sebesar 14,3 juta ton, di pridiksi meningkat pada tahun 2010 sebesar 17,9 juta ton, bahkan perusahaan ini menargetkan produksi mereka pada tahun 2014 akan mencapai 30 juta ton.

 

Menurut laporan keuangan yang kami terima, sales turn over perusahaan ini dalam tiga tahun terkhir menunjukkan kenaikan, pada tahun 2007 penjualannya mencapai US$ 384 juta dengan keuntungan bersih sebesar US$ 37,1 juta, tahun 2008 penjualannya meningkat menjadi US$ 631 juta dengan keuntungan sebesar US$ 77,6 juta dan pada tahun 2009 angka penjualannya mencapai US$ 800 juta dengan keuntungan bersih sebesar US$ 154,2 juta.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. YA Didik Cahyanto sebagai President Director, Mr. Julianto Halim sebagai Vice President Director dibantu oleh dua orang Director yaitu Mr. Michiaki Furosho dan Mr. John Joseph Ramos. Mereka adalah orang orang yang sangat berpengalaman dibidangnya.

 

Pertumbuhan PT. KIDECO JAYA AGUNG

 

Perusahaan ini didirikan pada September 1982 dengan modal sebesar US$ 3.000.000,- Pendiri perusahaan ini adalah Tae Woong Inc, Hanil Cement Mfg Co Ltd, Pan Ocean Shipping Co Ltd, Youngsan Transportation Co Ltd dan Samchok Consolidated Coal Mining Co Ltd, semuanya dari Korea Selatan.

 

Perusahaan ini beberapa kali mengalami perubahan modal dan pemegang saham, terakhir pada Mei 2007 sahamnya menjadi Rp. 24.605.000.000,- pemegang sahamnya adalah Samtam Co Ltd dari Korea (49%), PT. Indika Inti Corpindo (46%) dan PT. Muji Inti Utama (5%).

 

Peningkatan produksi batubara juga dialami oleh PT. Kideco Jaya Agung, pada tahun 2008 produksinya mencapai 22 juta ton pada tahun 2008, meningkat menjadi 24,7 juta pada tahun 2009 dan di prediksi menjadi 28 juta ton pada tahun 2010 ini.

 

Menurut pengamatan CDMI, perusahaan ini dalam tiga tahun terakhir selalu berhasil meningkatkan penjualannya. Pada tahun 2006 penjualannya sebesar US$ 592 juta dengan keuntungan bersih sebesar US$ 54,3 juta, pada tahun 2007 angka penjualannya meningkat menjadai US$ 701 juta dengan keuntungan sebesar US$ 94,9 juta, terakhir pada tahun 2008 angka penjualannya mencapai US$ 1,081 juta dengan keuntungan sebesar US$ 229,4 juta.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh orang orang yang sangat berpengalaman dibidangnya antara lain Mr. Lee Chan Eui, sebagai President Director, dibantu oleh enam orang Director antara lain Mr. Lucas Djunaidi, Mr. Arsjad Rasjid Prabu M, Mr. Lee Chang Hoon, Mr. Kim Dal Soo, Mr. Lee Jong Beom, Mr. Paulus Lucas Gandhanya.

 

Pertumbuhan PT. KALTIM PRIMA COAL

 

Perusahaan ini berdiri pada bulan Maret 1982 dengan modal sebesar US$ 2.000.000,- pendiri perusahaan ini adalah CRA Exploration Pty Ltd dari Australia dan The British Petroleum Company dari Inggris. Terjadi beberapa kali perubahan pemegang saham, terakhir pada April 2007 saham perusahaan ini dikuasai oleh Bumi Resources Tbk (13,6%), Kalimantan Coal Ltd (9,5%), Sangatta Holding (9,5%), PT. Kutai Timur Energi (5%), PT. Sitrade Coal (32,4%), dan Tata Power Ltd dari Mauritius (30%).

 

Sama halnya dengan perusahaan batubara lainnya, produksi batubara PT. Kaltim Prima Coal, pada tahun 2009 juga meningkat dibanding tahun 2008 yaitu sebesar 43 juta ton, di prediksi meningkat pada tahun 2010 menjadi 45 juta ton.

 

Perusahaan ini dalam lima tahun terakhir selalu menunjukkan peningkatan dalam penjualan batubara, menurut prediksi CDMI, pada tahun 2005 angka penjualannya mencapai US$ 950 juta, naik menjadi US$ 1,050 juta pada tahun 2006, tahun berikutnya meningkat lagi menjadi US$ 1,125 juta, pada tahun 2008 angka penjualannya sudah mencapai sekitar US$ 1,175 juta dan terakhir pada tahun 2009 prediksi CDMI penjualannya mencapai US$ 1,200 juta.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Nalinkant Amratlal Rathod sebagai President Director, dibantu oleh empat orang direktur yang sangat menguasai bisnis ini antara lain Mr. Sowmyan Ramakrishna, Mr. Robert Bismarka Kurniawan, Mr. Minesh Shri Krishna Dave dan Mr. Evan William Ball.

 

Pertumbuhan PT. MULTI HARAPAN UTAMA

 

Perusahaan ini berdiri pada tahun 1986, dengan modal sebesar US$ 1.000.000,- Pemegang sahamnya saat itu adalah PT. Multi Harapan Utama, PT. Asminco Bara Utama, New Hope Pty Ltd dari Australia. Pada Agustus 2008 saham perusahaan ini dikonfersikan kedalam rupiah menjadi Rp. 82.335.000.000,- dengan pemegang saham antara lain PT. Agrarizki Media (37,51%), PT. Asmin Pembangunan Pratama (10%), Mr. Ibrahim Risjad (12,49%) dan Private Resources Pty Ltd (40%).

 

Menurut estimasi CDMI, sales turn over perusahaan ini dalam empat tahun terakhir mengalami peningkatan, pada tahun 2006 penjualan mereka diprediksi sebesar Rp. 550 milyar, naik menjadi 660 milyar pada tahun 2007, naik kembali pada tahun 2008 sebesar Rp. 840 milyar dan terakhir pada tahun 2009 penjualannya mencapai Rp. 875 milyar.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Reza Pribadi sebagai President Director, dibantu oleh empat orang direktur yang sangat berpengalaman dalam bisnis ini antara lain Mr. Raymond Pribadi, Mr. Dede Risyad, Mr. Sandiaga Salahuddin Uno dan Mr. Lukas Teguh Irianto.

 

 kembali keatas


* INVESTASI ASING DI SEKTOR KELAPA SAWIT


Jumlah Area Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia

 

Jumlah area perkebunan kelapa sawit di Indonesia dari tahun ketahun mengalami peningkatan yang signifikan. Total luas area perkebunan kelapa sawit pada tahun 2005 sebesar 5.453,8 ribu hektar meningkat ditahun 2006 sebesar 6.594,9 ribu hektar, setahun kemudian menjadi 6.766,8 ribu hektar, pada tahun 2008 luas area perkebunan kelapa sawit sudah mencapai 7.363.8 ribu hektar, meningkat lagi pada tahun 2009 menjadi seluas 7.508,0 ribu hektar dan terahir pada tahun 2010 di perkirakan luas area perkebunan kelapa sawit bisa mencapai 7.824.6 ribu hektar.

 

Area perkebunan tersebut dikuasai oleh perkebunan petani seluas 3.314,6 ribu hektar, milik perkebunan pemerintah/BUMN seluas 616,5 ribu hektar, milik perkebunan swasta asing maupun swasta nasional seluas 3.893,3 ribu hektar.  Untuk lebih jelasnya dapat melihat table dibawah ini :

 

Luas Area Perkebunan Kelapa Sawit Berdasarkan Kepemilikan 2005-2010

 

Jumlah Produksi Kelapa Sawit

 

Sementara itu jumlah produksi kelapa sawit juga mengalami peningkatan, jika pada tahun 2005 produksi kelapa sawit seluruhnya sebesar 11.861,6 ribu ton pada tahun 2006 meningkat menjadi 17.350,8 ribu ton, tahun 2007 sebesar 17.664,7 ribu ton, sedikit turun ditahun 2008 menjadi 17.539,7 ribu ton, namun meningkat lagi pada tahun 2009 sebesar 18.640,8 ribu ton dan terakhir ditahun 2010 di prediksi meningkat sebesar 19.844,9 ribu ton. Untuk jelasnya dapat melihat tabel dibawah ini.

 

Jumlah Produksi Kelapa Sawit 2005-2010

 

Berikut adalah standard Report PT. CDMI

 

Pertumbuhan PT. SAMPOERNA AGRO Tbk

 

Perusahaan ini didirikan pada Juni 1993 di Palembang, semula nama perusahaan ini adalah PT. Selapan Jaya, pada Pebruari 2007 namanya di rubah menjadi PT. Sampoerna Agro Tbk. Setelah beberapa kali mengalami perubahan, saat ini modal perusahaan adalah sebesar Rp. 1.100.000.000.000,- dan pemegang sahamnya saat ini adalah : Sampoerna Agri Resources Pte Ltd (67.05%) dan public (32,95%).

 

Menurut laporan keuangan yang kami terima, terlihat total penghasilan perusahaan dari tahun 2005-2008 mengalami peningkatan yang tinggi, pada tahun 2005 penjualannya mencapai Rp. 625,6 milyar dengan keuntungan bersih sebesar Rp. 61,3 milyar, ditahun 2006 penjualannya meningkat menjadi Rp. 977,2 milyar dengan keuntungan sebesar Rp. 112,6 milyar, kemudian meningkat lagi di tahun 2007 sebesar Rp. 1.598,9 milyar dengan keuntungan 215,0 milyar, ditahun 2008 penjualannya kembali meningkat  Rp. 2.288,1 milyar dengan keuntungan sebesar Rp. 439,5 milyar, namun terakhir pada tahun 2009 penjualan perusahaan ini menurun itu terlihat dari laba bersih perusahaan ini pada tahun 2009 yang hanya Rp. 281,7 milyar. 

 

Tahun 2010 ini. Sampoerna Agro akan mengoperasikan pabrik pengolahan kelapa sawit baru yang terletak di Sumatera Selatan diharapkan dengan beroperasinya pabrik baru ini, kapasitas produksinya meningkat sebesar 15% menjadi 455 ton per jam.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Ekadhamajanto Kasih, sebagai President Director dibantu empat orang Director antara lain Mr. Yasin Chandra, Mr. Jaffesjah Chandra, Mr. Chang Poh Sang dan Mr. Sie Eddy Kurniawan.

  

Investasi Asing di Sektor Kelapa Sawit

  

Menurut pengamatan CDMI investasi asing di sektor  kelapa sawit di Indonesia dikuasai oleh Malaysia, yang memiliki hampir  2 juta hektar perkebunan kelapa sawit, ini artinya Malaysia menguasai lebih dari seperempat total areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang luasnya sekitar 7,8 juta hektar.

 

Kelompok perusahaan raksasa Malaysia yang menguasai perkebunan kelapa sawit diantaranya dimiliki oleh orang terkaya nomor tiga di Malaysia yaitu Lee Shin Cheng. Perusahaan kelapa sawit miliknya adalah IOI Group salah satu perusahaan pengolahan kelapa sawit terbesar di dunia. PPB OIL yang memiliki saham di Wilmar International Limited (WILMAR), kemudian Sime Darby yang merupakan hasil merger tiga perusahaan kelapa sawit Malaysia yaitu Sime Darby, Golden Hope dan Guthrie, Mereka bermitra dengan PT. Minamas Plantation Indonesia, berikutnya adalah Kuala Lumpur Kepong Bhd (KLK) yang bermitra dengan PT. Jabontara Eka Karsa dari Indonesia.

 

Menurut Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) saat ini ada sekitar 170 perusahaan perkebunanan kelapa sawit  asal Malaysia yang beroperasi di Indonesia, mereka menguasai lahan perkebunan di Aceh, Medan, Palembang, Padang, Jambi, Riau, Bangka Belitung, Kalimantan sampai ke Papua. Dari hasil investigasi kami, berikut adalah sebagian nama perusahaan Malaysia yang menggandeng perusahaan atau mitra dari Indonesia.

  

Daftar Perusahaan Malaysia Yang Bermitra Dengan Indonesia

 

 

Daftar Investasi Singapura di sector Kelapa Sawit

 

Dari hasil pengumpulan data oleh CDMI, investasi Singapura di sektor kelapa sawit dikuasai oleh Wilmar Holding Pte Ltd yang juga mempunyai saham di Wilmar Group Indonesia, ada juga group perusahaan besar lainnya yang menguasai perkebunan kelapa sawit di Medan, Riau, Palembang dan Kalimantan. Lebih dari 30 perusahaan yang berhasil kami kumpulkan dan disajikan dalam tabel berikut ini :

 

Daftar Perusahaan Singapura yang bermitra dengan Indonesia

 

 

Daftar Investasi British Virgin Island di Sektor Kelapa Sawit.

 

Sama halnya dengan Singapura, investasi di sektor kelapa sawit oleh British Virgin Island  juga dikuasai oleh kelompok usaha Wilmar Plantation Ltd, juga perusahaan lain yang menguasai perkebunan kelapa sawit di Medan, Riau dan Kelaimantan, berikut adalah nama perusahaan British Virgin Island yang bermitra dengan perusahaan Indoneisia.

 

Daftar Perusahaan British Virgin Island Yang Bermitra Dengan Indonesia

 

 

Daftar Investasi Mauritius di Sektor Kelapa Sawit

 

Mauritius adalah sebuah negara kepulauan di barat daya Samudera Hindia, sekitar 900 km sebelah timur Madagaskar. Negara dengan populasinya kurang dari 100 ribu jiwa itu mempunyai pertumbuhan ekonomi yang baik, aliran investasi asing ke Mauritius cukup banyak dan menjadikannya salah satu negara dengan pendapatan perkapita tertinggi di Afrika.

 

Pada tahun 2007 negara ini pernah menempati posisi 10 teratas  dalam realisasi investasi asing di Indonesia, dengan nilai investasi sebesar US$ 223 juta, selanjutnya pada tahun 2008 dan 2009 juga selalu menempati posisi atas dalam berinvestasi di Indonesia. Pada tahun 2009 yang lalu, Mauritius berada di peringkat ke 8, dengan investasi yang ditanamkan di berbagai proyek sebesar US$ 159,5 juta.

 

Menurut pengamatan CDMI, dari nama nama perusahaan Mauritius tersebut ada beberapa perusahaan diketahui bukan asli dari negara tersebut, sebagian ada yang berbadan hukum Indonesia, antara lain Group Bakrie, Group Sampoerna, PT. Southeast Asia Pipe Industries dan PT. Kiani Kertas milik Prabowo Subianto.

 

Investasi Mauritius di sektor kelapa sawit juga di kuasai oleh Wilmar Plantation Ltd, yang menggandeng mitra dari beberapa perusaan Indonesia, mereka mempunyai perkebunan kelapa sawit di Medan, Jambi, Palembang dan Kalimantan. Untuk lebih jelasnya dapat melihat tabel dibawah in :

 

Daftar Perusahaan Mauritius Yang Bermitra Dengan  Indonesia

 

 

Daftar Investasi  Inggris, Belgia, Belanda, Hongkong dan Amerika Serikat di sektor kelapa sawit.

 

Ternyata bisnis di sektor kelapa sawit juga diminati oleh negara nagara maju seperti Inggris, Amerika Serikat, Belgia, Belanda dan Hongkong. Dengan menggandeng beberapa perusahaan Indonesia, mereka menguasai perkebunan kelapa sawit di Medan, Palembang, Riau, Bangka Belitung dan Kalimantan. Hasil dari pengumpulan data CDMI, berikut kami sampaikan melalui table di bawah ini :

 

Daftar Perusahaan Inggris Yang Bermitra Dengan Indonesia

 

 

Daftar Perusahaan Belgia Yang Bermitra Dengan Indonesia

 

 

Daftar Perusahaan Belanda Yang Bermitra Dengan Indonesia

 

 

Daftar Perusahaan Hongkong Yang Bermitra Dengan  Indonesia

 

 

Daftar Perusahaan Amerika Serikat Yang Bermitra Dengan Indonesia

 

kembali keatas


* INVESTASI ASING DI SEKTOR SPARE PART MOBIL DAN SEPEDA MOTOR


 

Industri sparepart otomotif di Indonesia mengalami pertumbuhan yang tinggi dari tahun ke tahun, hal ini ditandai dengan meningkatnya penjualan kendaraan bermotor. Tingginya angka penjualan kendaraan bermotor mempunyai dampak kepada meningkatnya jumlah produksi spare part dan komponen otomotif di Indonesia.

 

Menurut pengamatan CDMI, dalam lima tahun terakhir industry komponen otomotif dan manufactur mengalami peningkatan yang tinggi, sama halnya dengan peningkatan produksi mobil dan sepeda motor, berikut adalah laporan tentang pertumbuhan perusahaan perusahaan asing yang bergerak disektor ini :

 

Berikut adalah contoh Standard Report PT. CDMI

 

Pertumbuhan PT.  FUKOKU TOKAI RUBBER INDONESIA

 

Semula perusahaan ini bernama PT. Fukoku Indonesia didirikan pada Juli 1997 dengan modal sebesar Rp. 3.678.000.000,- pemegang sahamnya adalah Fukoku Co Ltd dan Mr. Jiro Kawamoto, keduanya dari Jepang. Pada Juli 2004 perusahaan ini berganti nama menjadi PT. Fukoku Tokai Rubber Indonesia, kemudian pada Agustus 2007 modal perusahaan ini ditingkatkan menjadi Rp. 52.564.350.000,- pemegang sahamnya adalah Tokai Rubber Industries Ltd dan Fukoku Co Ltd, keduanya dari Jepang.

 

Perusahaan yang beralamat di Kawasan JABABEKA ini memproduksi komponen mobil seperti : Engine mounting, Pulley Dampers dan Cushion Rubber, yang selalu meningkat produksinya dari tahun ketahun. Hasil produksi mereka di gunakan oleh industry mobil Toyota, Daihatsu dan Honda.

 

Perusahaan ini berhasil meningkatkan penjualannya dalam dua tahun terakhir, menurut estimasi CDMI,  pada tahun 2007 angka penjualannya mencapai  Rp. 100 milyar lebih dan meningkat pada tahun 2008 sebesar Rp. 150 milyar lebih, pada tahun 2009 angka penjualannya sudah mencapai Rp. 170 milyar.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Kazumi Ijima, sebagai President Director dibantu oleh dua orang Director yaitu Mr. Akira Nozawa dan Mr. Kokichi Kanazawa.

 

Pertumbuhan PT. ASNO HORIE INDONESIA

 

Perusahaan ini semula bernama PT. Asno Cipta Indonesia, didirikan pada Juni 1996 dengan modal sebesar Rp. 14.004.000.000,- pemegang sahamnya adalah Horie Metal Co Ltd, Sumitomo Corporation, Toyota Tsusho Corporation, ketiganya dari Jepang dan PT. Cipta Saksama Indonesia, pada Maret 2002 perusahaan ini berganti nama menjadi PT. Asno Horie Indonesia, selanjutnya pada Agustus 2007 modal perusahaan ini ditingkatkan menjadi Rp. 18.905.400.000 dan pemegang sahamnya adalah FTS Co Ltd, Sumitomo Corporation dan Toyota Tsusho Corporation.

 

Perusahaan yang beroperasi sejak tahun 1997 ini beralamat di Cikarang Selatan,  memproduksi komponen mobil  seperti Fuel Tank, Handle component, Fill Pipes dan lain lain, sebagian besar hasil produksi mereka digunakan oleh Honda, Toyota dan Daihatsu, disamping itu dalam lima tahun terakhir perusahaan ini juga memproduksi komponen sepeda motor yang dipesan oleh Honda, Yamaha, Suzuki dan perusahaan lainnya.

 

Menurut estimasi CDMI, perusahaan ini berhasil meningkatkan penjualannya dalam dua tahun terakhir,  angka penjualanya pada tahun 2007 mencapai Rp. 300 milyar lebih, dan pada tahun 2008 sebesar Rp. 430 milyar, di perkirakan pada tahun 2009 angka penjualalnnya sedikit menurun yaitu sebesar Rp. 415 milyar.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Yukihiro Tsuchiya, sebagai President Director dibanru oleh dua orang Director yaitu Mr. Hisanori Katoh dan Mr. Kiyoshi Suzuki.

 

Pertumbuhan PT. KOYO JAYA INDONESIA

 

Perusahaan ini didirikan pada Januari 1994, dengan modal sebesar US$ 2.500.000,- pemegang sahamnya adalah Koyo Radiator dari Jepang dan PT. Lautan Jaya Kumala dari Indonesia. Pada Juni 2009 modal perusahaan ini dikonversikan kedalam rupiah menjadi Rp. 13.120.800.000,- dengan pemegang saham yang sama.

 

Perusahaan yang beralamat di Kawasan Industri MM 2100 ini memproduksi Radiator dan komponen lainnya, hasil produksinya kebanyakan di ekspor keluar negeri seperti ke Jepang, Amerika Serikat dan negara Eropa, hanya sekitar 15% di pasarkan di dalam negeri dan di serap oleh industry mobil.

 

Pertumbuhan perusahaan ini terlihat dari angka penjualanya yang selalu meningkat dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun 2005 angka penjualannya sekitar Rp. 350 milyar, naik menjadi Rp. 365 milyar pada tahun 2006, dua tahun berikutnya pada tahun 2008 angka penjualannya diprediksi sekitar Rp. 420 milyar, tapi pada tahun 2009 menurun sekitar Rp. 360 milyar.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Kazumoto Ejiri, sebagai President Director, dibantu oleh enam orang Director yaitu Mr. Yoshimoto Ejiri, Mr. Takuma Ejiri, Mr. Hiromo Ono, Mr. Maha Djaja, Mr. Surjadi Sasmita dan Mr. Saiful Akhyar.

 

Pertumbuhan PT. YAMAHA MOTOR PART MANUFACTURING.

 

Perusahaan ini didirikan pada tahun 1996 dengan modal sebesar US$ 20.000.000,- pemegang sahamnya adalah Yamaha Motor Co dari Jepang dan PT. Karya Sakti Utama dari Indonesia. Akte perusahaan ini beberapa kali mengalami perubahan, terakhir pada tahun 2007 modal dasarnya ditingkatkan menjadi Rp. 94.240.000.000,- pemegang saham terbesar dikuasai oleh Yamaha Motor Co Ltd (99.99%) dan Sunward International Inc (0.01%).

 

Perusahaan ini beralamat di Kawasan Industri International City (KIIC) Karawang, Jawa Barat, beroperasi sejak tahun 1997 memproduksi komponen sepeda motor seperti Cylinder Heads, Cylinder Blocks, Gears-Axles dan komponen lainnya. Awalnya sebagian produksinya selain di gunakan didalam negeri juga di ekspor ke berbagai negara seperti Thailand, Malaysia dan China, namun sejak tahun 2000 dengan meningkatnya produksi sepeda motor di dalam negeri, volume ekspor dikurangi dan kebanyakan di serap didalam negeri  terutama oleh sepeda motor Yamaha.

 

Pertumbuhan perusahaan ini terlihat dari angka penjualannya dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan kecuali pada tahun 2008 agak menurun,  pada tahun 2005 angka penjualannya diprediksi sebesar Rp. 150 milyar, naik menjadi Rp. 200 milyar pada tahun 2006. Dua tahun kemudian yaitu pada tahun 2008 angka penjualannya diprediksi turun sebesar Rp. 180 milyar dan terakhir tahun 2009 meningkat lagi menjadi Rp. 210 milyar.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Naoki Arima, sebagai President Director dibantu oleh empat orang Director yaitu Mr. Koji Okazaki, Mr. Tetsuya Tashiro, Mr. Yukio Tanabe dan Mr. Sabah Saparian.

 

Pertumbuhan PT. FUJITA INDONESIA.

 

Perusahaan ini didirikan pada April 2002 dengan modal sebesar US$ 2.000.000,- pemegang sahamnya adalah Fujita Tekosho co Ltd dan Fuji Kanagata Seishakusho Co Ltd.  Pada Oktober 2008 saham perusahaan ini dikonversikan kedalam rupiah menjadi Rp. 32.890.092.000,-  mayoritas sahamnya dikuasai oleh Fujita Tekosho Co Ltd. (97%), Daiwa Tanko Co Ltd (2%) dan Fuji Kanagata Seisakusho (1%).

 

Perusahaan ini beralamat di Kawasan Industry International City (KIIC), Karawang. Jawa Barat, memproduksi berbagai komponen sepeda motor seperti Connecting Rod, Crank Shafts dan komponen lainnya. Hasil produksinya digunakan didalam negeri oleh industry sepeda motor Suzuki, Yamaha dan Kawasaki, namun sebagian di ekspor ke berbagai negara seperti Vietnam dan Thailand.

 

Pertumbuhan perusahaan ini terlihat dari angka penjualannya selama empat tahun terakhir, pada tahun 2006 angka penjualannya diprediksi sebesar Rp. 120 milyar, tahun 2007 sebesar Rp. 142 milyar, tahun 2008 sebesar Rp. 170 milyar dan tahun 2009 diprediksi sebesar Rp. 195 milyar.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Yoshihisa Fujita, sebagai Director.

 

Pertumbuhan PT. ASAMA INDONESIA MANUFACTURING

 

Perusahaan ini didirikan di Jakarta pada tahun 1995, dengan modal sebesar Rp. 83.840.130.000,- pemegang sahamnya adalah Asama Giken Co Ltd (42,95%), Yanagawa Seiki Co Ltd (10%), Nissin Kogyo Co Ltd (3,31%) ketiganya dari Jepang, pemegang saham dari Indonesia adalah PT Prospect Motor (28%), Mr. Handi Widodo (2%), terahir adalah Asian Honda Motor Co Ltd dari Thailand (13,74%).

 

 Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Hidehiro Yamazaki sebagai President Director di bantu oleh lima orang wakilnya antara lain :  Mr. Kiyoto Kobayashi, Mr. Iwan Setiawan, Mr. Shigeru Maruyama, Mr. Isao Ono dan Mr. Omo Barakah.  Perusahaan ini beralamat di Kawasan Industri Mitakarawang. Jalan Mitra Selatan II, Desa Parung Mulya, Teluk Jambe, Karawang 41361. Jawa Barat.

 

PT. ASANO GEAR INDONESIA, perusahaan ini didirikan di Jakarta pada tahun 2005, dengan modal sebesar Rp. 18.299.995.830,- pemegang sahamnya adalah Asano Gear Co Ltd dari Jepang (73,8%) dan PT Inti Ganda Perdana (26,2%).

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Osamu Kawaguchi sebagai President Director dibantu oleh tiga orang Director antara lain : Mr. Hideo Maeno, Mr. Hiroaki Miyanishi dan Mr. Gustav Afdhol Husein. Perusahaan ini beralamat di Jalan Raya Pegangsaan II Blok A-1 km.16. Kelurahan Rawa Terate , Cakung. Jakarta 13920.

 

PT. AT INDONESIA, perusahaan ini didirikan pada di Jakarta pada tahun 1983, saat ini modal perusahaan ini sebesar Rp. 55.500.000.000,- pemegang sahamnya antara lain PT Astra Otoparts Tbk (40%). Aisin Takaoka Co Ltd  (52%). Aisin Seiki Co Ltd (4%). Toyota Tsusho Corporation (4%).

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Yoshihiko Kuroda sebagai President Director dibantu oleh tiga orang wakilnya natara lain : Mr. Janto Tantra, Mr. Masayuki Hibino dan Mrs. Lenny Leonita Sutanti.

 

PT. IHARA MANUFACTURING INDONESIA, perusahaan ini didirikan di Jakarta pada tahun 2002, dengan modal sebesar Rp. 27.840.000.000,- pemegang sahamnya adalah Ihara Manufacturing Co Ltd (99,9%) dan Ihara Engineering Co Ltd (0,1%).

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Takenori Takada sebagai President Director dan Mr. Namizaki S, sebagai Director.  Perusahaan ini beralamat di Kawasan Industri KIIC. Jalan Maligi Raya Lot G No 1A-1B. Karawang Barat 41361. Jawa Barat.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Kazumi Ijima sebagai President Director dibantu oleh dua orang Director yaitu Mr. Akira Nozawa dan Mr. Kokichi Kanazawa.

 

Menurut pengamatan CDMI industry otomotif dan spare part di Indonesia dikuasai oleh investasi asing asal Jepang. Mereka bermitra dengan perusahaan di Indonesia, berikut adalah sebagian dari nama perusahaan tersebut :

 

Daftar Perusahaan Jepang yang Bermitra dengan Indonesia

 

 

Investasi Korea Selatan di Sektor Otomotif dan Komponen Spare Part

 

Menurut pengamatan CDMI, selain Jepang yang menguasai industry otomotif dan komponen spare part di Indonesia, ternyata banyak juga investasi dari Korea Selatan yang memasuki bisnis Industri Otomotif dan Komponen Spare Part di Indonesia, nama nama perusahaan Korea Selatan itu kami sajikan dalam table dibawah ini :

 

Daftar Perusahaan Korea Selatan Yang bermitra Dengan Indonesia

 

 

Daftar Investasi Taiwan di Sektor Otomotif dan Komponen Spare Part

 

Menurut hasil pengumpulan data oleh CDMI, ditemukan juga investasi Taiwan di sector Otomotif dan Komponen Spare Part, ternyata mereka sudah lama menjalankan bisnis ini di Indonesia, melalui table dibawah ini kami sajikan nama perusahaan Taiwan yang bermitra dengan perusahaan perusahaan Indonesia.

 

Daftar Perusahaan Taiwan Yang Bermitra Dengan Indonesia

 

 

Daftar Investasi Malaysia di Sektor Otomotif dan Komponen Spare Part

 

Sama halnya dengan Taiwan, Malaysia juga telah lama memasuki industry ini, melalui pengumpulan data, kami menemukan beberapa perusahaan Malaysia yang menjalankan bisnis ini bermitra dengan beberapa perusahaan Indonesia, berikut kami sajikan pada table dibawah ini :

 

Daftar Perusahaan Malaysia Yang bermitra Dengan Indonesia

 

 

Daftar Investasi Jerman di Sektor Otomotif dan Komponen Spare Part

 

Melalui pengumpulan data oleh CDMI, ditemukan juga  beberapa perusahaan Jerman yang menjalankan bisnis industry otomotif dan komponen spare part di Indonesia, mereka bekerjasama dengan beberapa perusahaan Indonesia, seperti yang tersaji pada table dibawah ini.

 

Daftar Perusahaan Jerman Yang Bermitra Dengan Indonesia

 

 

kembali keatas


* INVESTASI ASING DI SEKTOR INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT)


Industri tekstil dan produk tekstil lainnya bersama dengan industry garment merupakan salah satu industry yang sangat penting bagi Indonesia. Industri tersebut merupakan penyumbang devisa terbesar bagi negara di samping minyak dan gas bumi (Migas).

 

Dipasar Amerika, Eropah dan Jepang, Industri tekstil Indonesia dan produk tekstil lainnya telah memiliki posisi yang sangat baik dengan pangsa pasar antara lima sampai enam persen dari total nilai ekspor dunia, walaupun saat ini persaingan produk tekstil dunia sangat ketat.

 

Saat ini industry tekstil dan produk tekstil lainnya sedang menghadapi berbagai masalah di dalam negeri, diantaranya adalah biaya energy yang mahal, infrastruktur pelabuhan yang kurang baik, mesin mesin tekstil yang sebagian besar sudah sangat tua, serta maraknya produk impor illegal terutama dari China. Akibatnya dalam lima tahun terakhir pertumbuhan industry tekstil dan produk tekstil cenderung melambat, berbeda halnya dengan negara pesaing seperti Vietnam, Bangladesh, Thailand dan China yang telah menggunakan teknologi baru.

 

Berbagai permasalahan tersebut diatas, ditambah lagi dengan berlakunya pasar bebas Asean dan China yang ikut mengganggu kinerja industry tekstil dalam negeri menyebabkan industry TPT berjalan dengan kondisi yang kurang sehat, biaya operasional menjadi mahal tapi dengan tingkat produktivitas yang sangat rendah.

 

Masalah lainnya yang cukup mengganggu dengan maraknya tekstil impor ilegal yang masuk ke Indonesia terutama dari China, jumlah tekstil ilegal yang masuk kepasar domistik mencapai hampir 40% pasar tekstil dalam negeri.

 

Menurut pengamatan CDMI, ekspor tekstil dan produk tekstil dari tahun 2000 sampai 2009 meningkat 11,59 persen, atau rata rata 3,4% pertahun, ini setara dengan nilai ekspor sebesar US$ 9,3 milyar. Walaupun cenderung stagnan jika dibandingkan dengan nilai impor, industry tekstil masih menunjukkan surplus.

 

Laporan dari Biro Pusat statistik tentang ekspor tekstil dan garment dalam delapan tahun terakhir menunjukkan angka yang fluktuatif, pada tahun 2002 ekspor garment ke berbagai negara mencapai 333,1 ribu ton dengan nilai US$ 3,887 juta, sedangkan produk tekstil pada tahun yang sama ekspornya sebanyak 1,425 ribu ton dengan nilai US$ 3,075 juta. Untuk lebih jelasnya tentang ekspor garment dan produk tekstil dalam delapan tahun terakhir dapat  melihat table dibawah ini :

 

Perkembangan Ekspor Garment dan Produk Tekstil 2002-2009

 

Untuk mengetahui pertumbuhan investasi asing di sektor Tekstil dan Produks Tekstil (TPT), berikut adalah contoh Standard Report PT. CDMI

 

Pertumbuhan PT. EMBEE PLUMBON TEKSTIL

 

Perusahaan ini didirikan pada Juli 1998, dengan modal sebesar US$ 12.000.000,- Pemegang sahamnya adalah Mr. Vishmaber Sunderdas Badlani dan Mr. Devidas Sunderdas Badlani keduanya dari India. Pada Maret 2007 saham perusahaan ini di konversikan kedalam rupiah menjadi Rp. 63.450.000.000,- dengan pemegang sahamnya adalah Mr. Amit Kumar Badlani dari India.

 

Menurut perkiraan CDMI, pada tahun 2008 perusahaan ini memproduksi benang sebanyak 38 juta bales, Grey Fabrics sebanyak 10 juta meter, Polyester Yarn sebanyak 22 ribu bales dan Rayon Yarn sebanyak 22 ribu bales. Pada tahun 2009 produksi perusahaan ini meningkat sekitar 15% dibanding tahun 2008.

 

Pendapatan perusahaan ini dari tahun 2005-2009 selalu menunjukkan kenaikan, menurut prediksi CDMI  pada tahun 2005 sales turn over nya sebesar Rp. 95 milyar naik menjadi Rp. 98 milyar pada tahun 2006, naik lagi menjadi 102 milyar di tahun 2007, pada tahun 2008 naik kembali menjadi 106 milyar dan terakhir menjadi 130 milyar di tahun 2009.

 

Perusahaan ini di pimpin oleh Mr. Vishamber Sunderdas Badlani sebagai President Director, dibantu dengan dua orang Director yaitu Mr. Priya Vishamber Badlani dan Mr. Amit Kumar Badlani.

 

Pertumbuhan PT. TRISULA TEXTILE INDUSTRIES (PT. TRISULATEX)

 

Perusahaan ini sebelumnya bernama PT. Trisula Banten Textile Mills, didirkan pada tahun 1971 dengan modal sebesar Rp. 100.000.000,- pemegang sahamnya saat itu adalah Mr. Tirta Suherlan dan istrinya Mrs. Winiati Suherlan. Terjadi beberapa kali perubahan pemegang saham dan penambahan modal, terakhir pada Juni 1999 perusahaan ini berganti nama menjadi PT. Trisula Textie Indusrties dan modalnya ditingkatkan menjadi Rp. 50.000.000.000. Saat ini pemegang saham terbesar adalah Asia Restructuring Capital Ltd dari British Virgin Island.

 

Perusahaan ini memproduski sekitar 4,800 ton Synthetic pertahun, 16 juta meter Polyester Fancy Setting pertahun, 29 juta meter Dyed Clothes pertahun dan 50 ribu lusin Garment

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Dedie Suherlan sebagai President Director, dibantu oleh dua orang Director yaitu Mrs. Elly Mulyati dan Mr. Limin.

 

Pertumbuhan PT. DEWHIRST MENSWEAR

 

Perusahaan ini didirikan pada September 1997 dengan modal sebesar US$ 4.500.000,- pemegang sahamnya saat itu adalah Dewhirst Overseas Ltd dan Itochu Europe Plc keduanya dari United Kingdom. Terjadi beberapa kali perubahan pemegang saham dan penambahan modal, terakhir pada Pebruari 2009 modal perusahaan ini di konversikan kedalam rupiah yaitu sebesar Rp. 24.490.000.000,-. Sahamnya dikuasai oleh Dewhirst Overseas Limited dan Whinmoor (SEACROFT) Limited keduanya dari UK.

 

Menurut estimasi CDMI, sales turn over perusahaan ini mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir, pada tahun 2005 sebesar US$ 40,5 juta, tahun 2006 sebesar US$ 47 juta, tahun 2007 sebesar US$ 60,5 juta, tahun 2008 sebesar US$ 64 juta dan terakhir tahun 2009 kami perkirakan sebesar US$ 71 juta.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Colin Andrew Wafer sebagai President Director, dibantu oleh dua orang Director yaitu Mr. Paul Anthony Warren dan Ms. Deborah Greatorex Sanderson.

 

Pertumbuhan PT. SOUTH PACIFIC VISCOSE

 

Perusahaan ini didirikan pada Januari 1978 dengan modal sebesar US$ 6.500.000,- Pemegang sahamnya saat itu adalah Tungabhadra Industries Ltd dari India, SNIA Viscose SPA dari Italy, International Textile Corporation Ltd dari Hongkong dan Mr. Ali Noor Luddin dari Indonseia. Pada Juni 2009 saham perusahaan ini ditingkatkan dan konversikan kedalam rupiah menjadi Rp. 290.000.000.000 dan pemegang saham terbesar adalah Lenzing AG dari Australia (41,98%), Avit Investment Ltd dari India (31,84%), Panique SA dari Panama (11,97), PT. Pura Golden Lion (11,92%) dan Mrs. Saparsih Noor Luddin (2,29%), keduanya dari Indonesia.

 

Menurut data yang kami miliki, sales turn over perusahaan ini dari tahun 2004-2008 selalu mengalami kenaikan, pada tahun 2004 sales turn overnya sebesar Rp. 2,026.180 juta dengan keuntungan bersih sebesar Rp. 158.345 juta, pada tahun 2005 sales turn overnya meningkat menjadi sebesar Rp. 2.265.821 juta, namun keuntungannya menurun menjadi Rp. 61.237 juta, tiga tahun kemudian yaitu tahun 2008 sales turn overnya sudah mencapai Rp. 3.258.886 juta dengan keuntungan sebesar Rp. 110.214 juta. Menurut estimasi CDMI, pada tahun 2009 sales turn overnya mencapai Rp. 3.500.000 juta.

 

Perusahaan ini dipimpin oleh Mr. Dr. Wolfram Reinhard Kalt sebagai President Director, dibantu oleh empat orang Director diantaranya adalah : Mr. Ian Colley, Mr. Gerhard Danninger, Mr. Guenther Krohn dan Mr. Darmawan Alim.

 

 

kembali keatas


* INVESTASI ASING DI SEKTOR SEPEDA MOTOR


Industri Sepeda Motor

 

Sama halnya dengan industry mobil, industry sepeda motor juga mengalami pertumbuhan yang pluktuatif, setelah membukukan angka penjualan yang tinggi ditahun 2008 yaitu sebesar  6.215.507 unit, angka penjualan di tahun 2009 mengalami penurunan yaitu hanya sebesar 5.881.475 unit. Untuk melihat perkembangan penjualan mobil dan sepeda motor di Indonesia dapat melihat table dibawah ini :

 

Perkembangan Penjualan Mobil dan Sepeda Motor di Indonesia 2000-2009

 

Yang menarik dari angka penjualan sepeda motor didalam negeri adalah persaingan antara Honda dan Yamaha, mereka selalu bersaing ketat baik dalam produksi maupun penjualan. Honda selalu menjadi pemimpin pasar sepeda motor, namun kekuatannya sudah mulai dibayang bayangi oleh Yamaha.

 

Honda yang memulai kiprahnya didunia otomotif tanah air sejak tahun 1971 telah berhasil memimpin pasar sepeda motor dalam negeri, karena merek otomotif ternama karya Soiciro Honda ini telah menunjukkan kualitas dan pelayanan terbaiknya untuk konsumen dalam negeri. Sebagai pemimpin pasar motor domistik baru baru ini PT, Astra Honda Motor (AHM) menginvestasikan dana senilai Rp. 760 milyar untuk mendongkrak kapasitas produksinya.

 

Dengan tambahan modal sebesar Rp. 760 milyar, total  investasi yang telah ditanamkan oleh PT. Astra Honda Motor (AHM) dalam dua tahun ini sudah mencapai Rp. 1,107 triliun.

 

Sebelumnya Honda sudah mempunyai dua pabrik yang berada di Sunter dan Pegangsaan, pabrik yang ketiga berada di Cikarang diharapkan mampu memproduksi sepeda motor sebanyak 500.000 unit pertahun, sehingga target produksi Honda sebanyak 3,5 juta unit pada tahun 2010 dapat tercapai , ini menunjukkan keseriusan Honda dalam berkarya.

 

Sementara itu, Yamaha juga terus meningkatkan produksi mereka, meningkatnya produksi Yamaha didukung dengan ekspansi kapasitas produksi sejak tahun 2006 karena permintaan pasar yang terus meningkat.  Pabriknya yang terletak di Cibitung, Jawa Barat, diharapkan dapat memproduksi 3 juta unit sepeda motor di tahun 2010 ini.

 

Yamaha dalam beberapa tahun terakhir terus mendekati Honda sebagai produsen sepede motor terbesar, miningkatnya produksi Yamaha itu didukung dengan ekspansi kapasitas produksi sejak tahun 2006 karena permintaan yang terus meningkat. Pada tahun 2007 Yamaha mencatat penjualan hanya sebesar 1,67 unit, bandingkan dengan Honda yang berhasi menjual sebanyak 2,14 juta, namun ditahun 2008 penjualan Yamaha meningkat drastis sebanyak 2,52 juta mendekati penjualan Honda sebanyak 2,83 juta unit.

 

Memasuki tahun 2010, Honda dan Yamaha masih bersaing ketat dalam penjualan sepeda motor nasional, menurut data yang diperoleh CDMI, untuk bulan Agustus 2010 Honda berhasil menjual sebanyak 350.669 unit sepeda motor, itu artinya pada periode Januari-Agustus 2010 total penjualan Honda sudah mencapai sebesar 2.352.868 unit.

 

Sementara itu pada bulan Agustus 2010, Yamaha berhasil menjual sebanyak 316.447 unit sepeda motor, itu artinya pada periode Januari-Agustus 2010 total penjualan Yamaha sebesar 2.262.792 unit.

 

Masih ada merek sepeda motor yang lain seperti Suzuki yang pada bulan Agustus 2010 berhasil menjual sebanyak 54.325 unit, Kawasaki sebanyak 8.480 unit, total penjualan kedua merek ini pada periode Januari-Agustus 2010 sebesar 350.224 unit untuk Suzuki dan 56.689 unit untuk Kawasaki.

 

Keempat merek  diatas menguasai 98% pasar sepeda motor Nasional, dengan total penjualan selama Januari-Agustus 2010  sebanyak 5.042.647 unit, hanya berbeda sedikit dengan total penjualan tahun 2009 sebesar 5,8 juta, sehingga target penjualan sebesar 7 juta unit sepeda motor pada tahun 2010 dapat tercapai dengan sisa waktu empat bulan lagi, sedangkan sisa 2% pasar sepeda motor diperebutkan oleh dua merek yaitu Kanzen dan TVS.

 

Pada tahun 2010 ini, target penjualan sepeda motor diharapkan mencapai 6,5 juta unit dengan omzet mencapai 67 triliun. Peningkatan pemasukan ini karena permintaan pasar domistik naik, karena membaiknya perekonomian Nasional.

 

Indonesia saat ini menjadi pasar sepeda motor ke tiga terbesar di dunia, dengan jumlah pasar sekitar 6,5 juta unit pertahun, posisi pertama adalah China dengan pasar sebesar 12 juta unit dan India pada posisi kedua dengan pasar sekitar 7,5 juta unit  pertahun.

kembali keatas


* IZIN INVESTASI ASING


kembali keatas


 
 

   

 

AGP Building 2nd Floor, Jalan Pegangsaan Timur No. 1 Cikini, Jakarta 10320, Indonesia.  Ph. : +62 21 31930108 - 9, Fax : +62 21 31930102

 

| Home | Gallery | About Us | Products | Services | Contact Us |